• Wed, Sep 2026

Bagian Dari Program DMPA, PT Arara Abadi dan BRIN Seleksi Ikan Baung Riau Untuk Jadi Komoditas Budidaya Unggulan

Bagian Dari Program DMPA, PT Arara Abadi dan BRIN Seleksi Ikan Baung Riau Untuk Jadi Komoditas Budidaya Unggulan


SIAK : SERANTAU MEDIA – Upaya menjadikan ikan baung lokal Riau sebagai komoditas budidaya terus dikembangkan melalui kerja sama PT Arara Abadi, unit usaha APP Group, dan Pusat Zoologi Terapan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Program ini merupakan bagian dari Program DMPA (Desa Makmur Peduli Alam)

Kegiatan ini merupakan mitigasi kepada masyarakat untuk pencegahan Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan) sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat kepada masyarakat di sekitar konsesi perusahaan.

Dua peneliti BRIN, Otong Zaenal Arifin dan Jojo Subagja, turun langsung melakukan pengambilan sampel dan pengukuran ikan di 
Kampung Pinang Sebatang Timur, Kabupaten Siak Senin (31/8/2026), sebagai tahap domestikasi lanjutan dan seleksi ikan baung hasil uji multilokasi.

Pengambilan sampel tersebut didampingi tim Social Community Engagement PT Arara Abadi dan APP Group, Janudianto dan Yulia Ramadhani serta Kiswanto dan dilanjutkan kegiatan yang sama ke Desa Kesumbo Ampai, Bathin Solapan, Kabupaten Bengkalis pada Rabu (2/9/2026).

Direktur PT Arara Abadi-APP Group, Edie Haris, MZ menyampaikan bahwa kerja sama riset dan pemberdayaan masyarakat ini merupakan bagian dari strategi pencegahan Karhutla jangka panjang perusahaan di Provinsi Riau.

“Kerja sama dengan BRIN sudah dimulai sejak 2023 sampai saat ini dan terus kami perluas manfaatnya. Melalui Program DMPA perusahaan tidak hanya hadir untuk mengelola hutan, tetapi juga memberdayakan warga setempat disekitar konsesi perusahaan agar memiliki sumber penghasilan yang baik tanpa harus merusak atau membakar lahan yang berakibat kerusakan pada lingkungan. Semakin banyak warga yang sejahtera dari lahan yang dikelola dengan baik, semakin bersih udara kita dan semakin aman wilayah ini dari ancaman Karhutla,” ujarnya. 

Peneliti Pusat Zoologi Terapan BRIN, Jojo Subagja, mengatakan kegiatan tersebut dilakukan untuk mengukur kemampuan adaptasi ikan baung hasil domestikasi yang telah mencapai generasi kedua atau G2.

“Baung yang dari alam itu sebetulnya meskipun bisa direproduksi, tetapi belum punya legalitas untuk disebarluaskan sebagai kandidat budidaya. Untuk mendapatkan itu, kita harus melakukan proses domestikasi dan dilanjutkan dari generasi ke generasi,” ujar Jojo.

Menurutnya, berdasarkan ketentuan Kementerian Kelautan dan Perikanan, ikan lokal atau ikan liar yang akan dikembangkan sebagai kandidat komoditas budidaya harus melalui proses domestikasi. Salah satu tahapan pentingnya adalah uji multilokasi pada generasi kedua. 

Riau menjadi lokasi penting dalam pengujian karena memiliki banyak wilayah rawa dengan karakteristik perairan yang cenderung asam. Salah satu lokasi pengujian berada di kolam masyarakat di kawasan PT Arara Abadi yang memiliki tingkat keasaman air cukup tinggi.

“Pagi tadi kita mengukur pH di 3,7. Sementara sampling bulanan biasanya berada di angka 5, 5,2 sampai 5,5,” kata Jojo.
 

1001543436.jpg


Hasil sementara menunjukkan ikan baung hasil domestikasi masih mampu tumbuh dengan baik di lingkungan dengan pH rendah. Pertumbuhan ikan di lokasi tersebut juga disebut tidak jauh berbeda dibandingkan ikan yang dipelihara di lokasi dengan kondisi pH mendekati normal.

Menurut Jojo, kemampuan beradaptasi pada kondisi air dengan tingkat keasaman tinggi menjadi salah satu potensi yang dapat dikembangkan melalui proses seleksi. “Ini menunjukkan bahwa baung dengan pH rendah cukup adaptif dibanding ikan pada kondisi air normal. Jadi salah satu potensinya mungkin ini, karena dia bisa beradaptasi pada pH yang rendah,” ujarnya.

Jojo menegaskan ikan hasil domestikasi tersebut belum otomatis dapat dinyatakan sebagai komoditas budidaya. Hasil penelitian nantinya harus melalui pengujian dan verifikasi oleh kementerian teknis.

“Untuk standar budidaya, nanti naskah akademiknya diuji oleh kementerian teknis, yaitu perikanan. Dinyatakan lulus atau tidaknya tergantung hasil ujian itu,” jelasnya.

Pengembangan budidaya ikan baung diharapkan tidak hanya membuka peluang ekonomi bagi masyarakat, tetapi juga mendukung keberlanjutan populasi ikan lokal melalui penyediaan sumber ikan dari hasil budidaya.

Sementara itu, tokoh Pemuda Sakai penerima manfaat dari Desa Kesumbo Ampai, Bathin Solapan, Bengkalis, Jefri Basir mengungkapkan warga desa sangat menyambut baik kerjasama budi daya ikan baung dengan PT Arara Abadi yang menggandeng BRIN. 

"Kami merasa sangat senang karena dapat belajar mengembangkan budi daya ikan Baung yang merupakan ikan lokal dengan nilai ekonomis yang tinggi. Sejauh ini program budi daya ini berjalan dengan baik dan kami harap dapat meningkatkan kesejahteraan warga Suku Sakai yang ada di desa ini," ujarnya. 

Jefri berharap PT Arara Abadi dapat terus mendampingi dan mendukung kelanjutan usaha budi daya ikan baung ini sehingga makin banyak masyarakat yang merasakan manfaat dari program ini.