• Fri, Oct 2026

Bantuan Irigasi PHR Bikin KWT Multi Talent Berani Tanam Cabai Saat Kemarau

Bantuan Irigasi PHR Bikin KWT Multi Talent Berani Tanam Cabai Saat Kemarau


PEKANBARU : SERANTAU MEDIA – Musim kemarau tak lagi menjadi hambatan bagi Kelompok Wanita Tani (KWT) Multi Talent di Desa Perawang Barat, Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak. Dengan dukungan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), kelompok beranggotakan 14 perempuan itu kini dapat mengoptimalkan lahan pertanian dengan sistem irigasi modern.

Sebelumnya, keterbatasan air menjadi kendala utama bagi mereka. Sumber air berupa parit berada sekitar 75 meter dari kebun dengan posisi sekitar sembilan meter lebih rendah.

Untuk menyiram tanaman, anggota KWT harus mengangkut air menggunakan jerigen berkapasitas 20 liter dari rumah masing-masing dengan sepeda motor. Satu jerigen membutuhkan waktu hingga 30 menit untuk diangkut dan digunakan menyiram tanaman.

Akibatnya, penyiraman seluruh kebun seluas sekitar empat hektare bisa menghabiskan waktu hingga empat jam setiap hari. Kondisi tersebut membuat anggota KWT memilih menanam ubi-ubian yang lebih tahan terhadap kekeringan dibanding komoditas hortikultura bernilai ekonomi seperti cabai, kacang panjang, timun, dan terong.

Kondisi itu mulai berubah setelah PHR memfasilitasi pemasangan pompa air bertenaga diesel. Air dari parit dipompa menuju tandon berkapasitas 1.000 liter. Pengisian tandon yang sebelumnya membutuhkan banyak waktu dan tenaga kini dapat dilakukan sekitar 10 menit.

PHR juga memperkenalkan sistem irigasi tetes yang menyalurkan air dan nutrisi langsung ke area perakaran tanaman. Dukungan tersebut dilengkapi bantuan pupuk organik serta pelatihan pengolahan limbah rumah tangga.

“Setelah ada bantuan dari PHR, banyak sekali perubahan nyata yang kami alami. Kami masih bisa menanam saat musim kemarau. Berbeda dari sebelumnya, bila kemarau kami tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak ada air,” kata Ketua KWT Multi Talent Ratna Siregar.

Ratna bersama anggota kelompok juga terlibat dalam persiapan infrastruktur. Mereka bergotong royong, dibantu para suami, membuat kolam penampungan air di lahan kebun.

Para anggota kemudian belajar mengoperasikan pompa, mengatur distribusi air melalui jaringan pipa irigasi tetes, hingga menyusun jadwal piket untuk memastikan sistem berjalan setiap hari.

Penerapan sistem tersebut memangkas waktu penyiraman hingga sekitar 50 persen. Jika sebelumnya membutuhkan empat jam sehari, kini penyiraman dapat dilakukan sekitar dua jam.

“Awalnya kami tidak paham dengan sistem pengairan yang diterapkan, namun ternyata sangat membantu. Tidak perlu repot lagi harus bolak-balik ambil air dari rumah. Ketakutan kekeringan tidak semengerikan dulu karena ada kepastian air,” ujar Ratna.

Ketersediaan air sekitar 1.000 liter per hari juga memungkinkan KWT kembali menggarap sekitar setengah hektare lahan yang sebelumnya tidak produktif saat musim kemarau.

Kini, anggota KWT Multi Talent mulai mengembangkan komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi, seperti cabai, kacang panjang, timun, dan terong.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya PHR mendorong kemandirian ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasional melalui penyediaan sarana, transfer teknologi, peningkatan kapasitas, serta pengembangan usaha pertanian yang berkelanjutan.***