AROMA kopi perlahan memenuhi ruangan ketika Yulia Vorna berdiri di balik meja bar. Dengan gerakan tangan yang terampil, perempuan berkacamata itu menyiapkan dua minuman pesanan pelanggan: Butterscotch Coffee dan Classic Spanish Latte.
Mula-mula, ia menyiapkan gelas dan bahan-bahan yang diperlukan. Untuk kopi butterscotch, Yulia meracik sirup butterscotch, susu UHT, espresso, dan es batu kristal. Bahan-bahan itu disusun hingga membentuk lapisan minuman dengan perpaduan warna yang menggoda.
Setelah itu, ia beralih membuat Classic Spanish Latte. Kopi yang telah diseduh dicampurkan dengan susu, lalu dituangkan ke dalam gelas yang berisi es kristal. Sesekali, Yulia memeriksa kembali takaran dan tampilan minuman yang dibuatnya.
Tak lama kemudian, kedua gelas kopi pesanan pelanggan itu selesai. Yulia meletakkannya berdampingan di atas meja bar, siap disajikan kepada pelanggan. Boy, rekan kerjanya, lalu membawa pesanan tersebut ke meja pelanggan yang telah menanti. Sambil tersenyum, Boy memberi isyarat kepada mereka. “Selamat menikmati.”
Bagi sebagian orang, membuat dua gelas kopi mungkin merupakan pekerjaan sederhana. Namun, bagi Yulia, setiap gelas yang tersaji adalah bagian dari perjalanan untuk menunjukkan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya.
Yulia merupakan penyandang disabilitas rungu-wicara yang bekerja sebagai barista di Ruang Setara Coffee, Social, and Study Space (Kafe Ruang Setara). Sejak sekitar empat bulan terakhir, ia menjadi bagian dari lingkungan kerja yang memberi ruang bagi penyandang disabilitas untuk beraktivitas sekaligus mengembangkan kemampuan.

Boy dan Yulia berbincang dengan pelanggan. (Foto: Serantau/Satria Utama)
Perempuan kelahiran Payakumbuh itu awalnya tidak melamar sebagai barista. Ia datang dengan harapan dapat bekerja sebagai kasir. Namun, setelah melihat potensinya, supervisor Ruang Setara mengarahkannya untuk menempati posisi barista.
Yulia menerima kesempatan tersebut dan menjalani pelatihan selama dua minggu untuk mempelajari keterampilan meracik serta menyajikan kopi. Dari yang semula belum terbiasa berada di balik meja bar, perlahan-lahan ia mulai menguasai pekerjaannya. Tangannya semakin cekatan menyiapkan pesanan, sementara rutinitas meracik kopi menjadi bagian dari kesehariannya.
Kini, Yulia mengaku mulai menikmati pekerjaannya sebagai barista.
Lebih dari Sekadar Kedai Kopi
Ruang Setara Coffee, Social, and Study Space yang berlokasi di Jalan Abdullah Munsyi, Gobah, Pekanbaru, tidak lahir semata-mata dari gagasan membuka kedai kopi untung mengeruk cuan.
Di balik meja bar dan deretan kursi tempat pengunjung menikmati kopi, tersimpan gagasan yang lebih besar: menyediakan ruang bagi penyandang disabilitas untuk bekerja, belajar, berinteraksi, sekaligus membangun kemandirian ekonomi.
Ketua Koperasi Melangkah Bersama Disabilitas Sejahtera, Imamil Usni, menceritakan awal mula gagasan tersebut. Menurutnya, kafe ini merupakan bagian dari program Pemko Pesmina (Pemberdayaan Komunitas Penyandang Disabilitas Pertamina) yang dikembangkan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) bersama sejumlah pihak.
Program tersebut dirancang untuk menjawab persoalan yang selama ini dihadapi penyandang disabilitas, terutama keterbatasan akses terhadap pekerjaan dan kegiatan ekonomi produktif.
“Program pemberdayaan ini mulai dikembangkan sejak 2025. Sebanyak 195 penyandang disabilitas mendapatkan pelatihan dan akses terhadap berbagai kegiatan ekonomi produktif, mulai dari keterampilan menjadi barista, usaha kuliner, laundry sepatu, hingga layanan pijat tunanetra,” jelas Imamil saat ditemui pada Selasa (22/9/2026).
Ia menambahkan, program tersebut tidak berhenti pada pemberian pelatihan. Pendekatan yang dibangun juga diarahkan untuk menciptakan ekosistem usaha, sehingga keterampilan yang diperoleh penyandang disabilitas dapat berlanjut menjadi kegiatan ekonomi yang menghasilkan.
“Dari proses itulah kemudian muncul gagasan menghadirkan sebuah ruang usaha yang dapat menjadi tempat praktik sekaligus ruang kerja. Pilihan akhirnya jatuh pada konsep kafe,” ungkapnya.
Untuk mewujudkan usaha tersebut, sejumlah komunitas disabilitas di Pekanbaru sepakat mendirikan Koperasi Melangkah Bersama Disabilitas Sejahtera. Imamil Usni kemudian dipercaya menjadi ketua koperasi.
Rencana pendirian Ruang Setara dimatangkan bersama tim Community Involvement & Development (CID) PT Pertamina Hulu Rokan dan UPT Pemberdayaan Penyandang Disabilitas Daksa Dinas Sosial Provinsi Riau. Pada akhir Juni 2026, Ruang Setara resmi diperkenalkan kepada publik.
Menurut Imamil, selain Yulia yang bekerja sebagai barista, ada tiga penyandang disabilitas lain yang turut bekerja di kafe tersebut, yakni Boy, Cici, dan Reni. Mereka terpilih melalui proses seleksi. Selain itu, dua karyawan nondisabilitas bekerja di sana sebagai koki dan staf keuangan.
Nama “Ruang Setara” dipilih dengan membawa pesan sederhana: setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk bekerja, belajar, dan berkembang.
Imamil mengatakan, kehadiran Ruang Setara mendapat respons positif dari sejumlah pengunjung. Bagi sebagian dari mereka, kafe ini menawarkan pengalaman baru karena memungkinkan interaksi langsung dengan penyandang disabilitas.
“Dengan cara itu, pengunjung tidak hanya melihat konsep inklusi dari luar, tetapi mengalami sendiri bagaimana komunikasi dapat berlangsung dengan cara yang berbeda,” ujarnya.
Meski demikian, Imamil menyadari bahwa tidak semua pengunjung langsung terbiasa berkomunikasi di Ruang Setara. Untuk membantu mengatasi hambatan tersebut, pengelola menyediakan alat bantu komunikasi berupa kartu-kartu dengan tulisan singkat, seperti “Tolong ambilkan sedotan”, “Tambah es”, dan “Di mana toilet?”
Bagi pengunjung yang ingin mencoba belajar bahasa isyarat, gambar gerakan tangan juga dipajang di dinding kafe dan di meja pemesanan.
“Di sini, kopi memang menjadi produk yang dijual. Namun, pengalaman berinteraksi juga menjadi bagian penting yang tidak kalah berarti,” ungkap Imamil.
Interaksi tersebut turut menghadirkan kebahagiaan bagi para pekerja. Bagi Yulia, salah satu hal yang membuatnya semakin bersemangat adalah respons para pengunjung.
Komunikasi, yang kerap menjadi tantangan dalam keseharian penyandang disabilitas rungu, justru menjadi jembatan untuk berkenalan dan terhubung dengan orang-orang baru.
Yulia berharap Ruang Setara terus berkembang dan menjadi tempat yang semakin terbuka bagi penyandang disabilitas. Ia juga berharap semakin banyak teman sesama penyandang disabilitas memperoleh kesempatan untuk bekerja dan mengembangkan kemampuan.
Ruang untuk Bertemu dan Belajar
Sambutan positif terhadap Ruang Setara juga datang dari pengunjung. Niken, mahasiswa Universitas Riau, mengaku telah dua kali datang ke kafe tersebut.
“Tempatnya asyik, suasananya juga tenang. Jadi, enak untuk nongkrong sambil mengerjakan tugas kuliah,” ujarnya saat ditemui pada Rabu (21/10/2026).
Ia mengatakan tidak mengalami kesulitan saat memesan makanan atau minuman karena tersedia sejumlah sarana untuk menyampaikan pesanan.
“Di sini ada gambar petunjuk untuk pemesanan. Lagi pula, kita bisa sambil mencoba belajar bahasa isyarat,” katanya.
Niken menyambut baik kehadiran tempat usaha yang membuka kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas. Menurutnya, konsep seperti ini patut ditiru oleh pelaku usaha lain di Riau.
“Menurut saya, ini merupakan bentuk kepedulian yang nyata kepada saudara-saudara kita penyandang disabilitas. Mereka juga memiliki hak yang sama untuk hidup dan bekerja seperti orang lain,” ungkapnya.

Sejumlah Jurnalis Pekanbaru saat berkunjung ke Kafe Setara beberapa waktu lalu. (Foto : ist)
Kesan serupa disampaikan Hasan Warso, pengunjung lain yang bekerja sebagai aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Provinsi Riau. Ia menilai kafe yang mempekerjakan penyandang disabilitas seperti Ruang Setara perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak.
Menurut Hasan, kafe ini dapat menjadi ruang pertemuan antara penyandang disabilitas dan nondisabilitas. “Dengan adanya kafe seperti ini, interaksi bisa berlangsung lebih intensif dan menjadi wadah untuk saling belajar serta memahami satu sama lain,” ujarnya.
Hasan juga menyampaikan sejumlah masukan untuk pengembangan Ruang Setara. Salah satunya adalah menyediakan sarana yang memungkinkan pengunjung mempelajari bahasa isyarat dengan lebih mendalam.
“Kalau bisa, dipasang layar televisi yang menampilkan bahasa isyarat. Jadi, sambil minum kopi, pengunjung bisa lebih memahaminya. Dengan begitu, mereka dapat berkomunikasi lebih baik dengan teman-teman disabilitas yang bekerja di sini,” usulnya.
Ia juga menyarankan agar pengelola mengadakan kegiatan secara berkala yang melibatkan berbagai komunitas. Kegiatan itu, misalnya, permainan sederhana yang mempertemukan komunitas penyandang disabilitas dan nondisabilitas.
Dari sisi usaha, Hasan menilai kualitas makanan dan minuman perlu terus dijaga dan ditingkatkan agar pengunjung tetap puas. Ia juga menyarankan pengelola menghadirkan menu khas yang membedakan Ruang Setara dari tempat lain.
Mendorong Kemandirian Ekonomi
Kehadiran Ruang Setara menjadi salah satu wujud komitmen PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) dalam memberdayakan penyandang disabilitas di Provinsi Riau.
Officer CID Zona Rokan South PHR, Lidia Sari, mengatakan program ini dirancang untuk membangun ekosistem yang inklusif dan ramah disabilitas, sekaligus mendorong kemandirian ekonomi penyandang disabilitas di sekitar wilayah operasi perusahaan.
Sebelumnya, melalui program Pesmina, PHR telah memberikan beragam pelatihan vokasional praktis. Pelatihan tersebut meliputi keterampilan barista, laundry sepatu, bakery dan pastry, pembuatan konten digital, serta pemasaran usaha pijat yang ditujukan untuk memperluas jangkauan pasar kelompok disabilitas netra.
“Penyandang disabilitas tidak hanya diberikan bantuan, tetapi juga didorong menjadi subjek yang memiliki kemampuan, pekerjaan, dan kontribusi ekonomi,” terangnya.
Bagi PHR, Ruang Setara merupakan salah satu wujud nyata dari gagasan tersebut. Di tempat ini, keterampilan yang diperoleh melalui pelatihan mulai diterapkan dalam aktivitas sehari-hari. Para pekerja menjalankan tugas sebagai barista, kru dapur, maupun petugas pelayanan.
“Bagi sebagian pekerja, Ruang Setara mungkin menjadi tempat kerja pertama yang benar-benar memberi mereka ruang untuk menunjukkan kemampuan,” tuturnya.
Lidia mengatakan, ruang pemberdayaan bagi penyandang disabilitas akan terus didorong agar mereka memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang dan berkarya.
“Untuk tahap awal, kami baru membina Kafe Ruang Setara di Pekanbaru. Namun, tidak tertutup kemungkinan PHR akan membina dan mendirikan kegiatan serupa di Duri maupun Dumai,” ujarnya.
Kepala UPT Pemberdayaan Penyandang Disabilitas Daksa (PPDD) Dinas Sosial Provinsi Riau, Anahartini Ropaniputri, S.E., M.M., menyampaikan apresiasi kepada PHR atas perhatian yang diberikan kepada penyandang disabilitas di Riau.
“Bukan hanya sekadar memberikan bantuan, tetapi juga membantu teman-teman disabilitas agar mandiri dan memiliki usaha sendiri,” kata Ana.
Ia menjelaskan, UPT PPDD Dinas Sosial Provinsi Riau saat ini mengelola panti yang dihuni 31 penerima manfaat dari 12 kabupaten/kota. Di panti tersebut, kebutuhan hidup sehari-hari para penerima manfaat ditanggung oleh pengelola.
Selain memenuhi kebutuhan dasar, pihak panti juga memberikan pelatihan keterampilan sesuai minat masing-masing penerima manfaat. Harapannya, mereka dapat hidup mandiri, baik dengan bekerja pada orang lain maupun membuka usaha sendiri.
Ana bersyukur Cici, salah seorang penghuni panti, kini telah bekerja di Ruang Setara setelah dinyatakan lulus seleksi.
“Semoga semakin banyak pihak swasta yang mengikuti jejak program Pesmina yang digagas PHR, sehingga penghuni panti kami juga bisa mandiri dan bekerja,” harapnya.
Kini, Ruang Setara memasuki babak baru. Kafe ini tidak lagi sekadar menjadi hasil dari sebuah program pemberdayaan, tetapi juga menjalani tantangan sebagai usaha yang harus tumbuh dan bertahan.
Sebab, kesempatan untuk bekerja merupakan langkah awal. Agar manfaatnya berkelanjutan, Ruang Setara perlu terus berkembang sebagai usaha sekaligus ruang perjumpaan yang membuka kesempatan bagi lebih banyak orang untuk belajar, bekerja, dan saling memahami. ***