• Sat, Jan 2026

Bangunan Bersejarah Tangsi Belanda Siak Ambruk, Sejumlah Pelajar dan Guru Jadi Korban

Bangunan Bersejarah Tangsi Belanda Siak Ambruk, Sejumlah Pelajar dan Guru Jadi Korban

Bupati Siak, Dr. Afni Zulkifli, saat melihat langsung korban ambruknya Tangsi Belanda di rumah sakit. (Foto: ist)


SIAK, SERANTAU MEDIA - Pagi itu seharusnya menjadi momen belajar yang menyenangkan. Matahari belum terlalu terik ketika puluhan siswa SD IT Baitul Ridho Kampung Rawang Kao turun dari bus, membawa ransel kecil dan rasa ingin tahu besar tentang sejarah Siak. Namun, kegembiraan itu berubah menjadi jerit ketakutan dalam hitungan detik.

Sabtu (31/1/2026) sekitar pukul 09.45 WIB, lantai dua bangunan bersejarah Tangsi Belanda di Jalan Pemuda, Kampung Benteng Hulu, Kecamatan Mempura, Kabupaten Siak Sri Indrapura, tiba-tiba runtuh. Sebanyak 10 orang dari 68 rombongan studi tour—terdiri dari siswa dan guru—ikut terjatuh ke lantai dasar. Tangisan, rasa sakit, dan kepanikan seketika memenuhi ruang bangunan tua itu.

Beberapa siswa mengalami luka di kepala, tangan, dan kaki. Ada yang terdiam karena syok, ada pula yang tak sanggup berdiri karena trauma.

Wisata Edukasi yang Berujung Petaka

Rombongan studi tour tersebut berangkat dari Kampung Rawang Kao sekitar pukul 07.30 WIB. Mereka terdiri dari 55 siswa kelas V dan VI serta 13 guru pendamping. Tujuan mereka pagi itu adalah menelusuri jejak sejarah Kerajaan Siak dan peninggalan kolonial Belanda di Kota Siak Sri Indrapura.

Sekira pukul 08.35 WIB, rombongan tiba di Tangsi Belanda dan disambut oleh pemandu wisata setempat, Safrizal. Dengan gaya bertutur khas, ia mulai menjelaskan sejarah bangunan tersebut sambil mengajak rombongan berkeliling dari lantai dasar hingga lantai dua.

Anak-anak tampak antusias. Mereka mendengarkan kisah masa lalu dengan mata berbinar, menyusuri lorong-lorong sempit dan ruangan kayu yang telah berusia puluhan tahun. Namun, tak ada yang menyangka bahwa bangunan yang menjadi saksi sejarah itu menyimpan bahaya tersembunyi.

Saat belasan siswa dan guru memasuki salah satu ruangan di lantai dua—sekitar empat meter dari lantai dasar—lantai kayu yang sudah lapuk tak mampu menahan beban. Bunyi retakan terdengar, lalu lantai runtuh seketika.

Tangisan dan Trauma

Guru dan murid yang berada di atasnya terjatuh bersamaan. Beberapa membentur lantai, lainnya tertimpa reruntuhan kayu. Tangisan kesakitan bercampur kepanikan memecah suasana.

“Anak-anak menangis ketakutan, ada yang berdarah di kepala, ada yang tidak bisa berjalan,” ujar salah satu saksi di lokasi.

Korban luka terdiri dari satu guru dan sembilan siswa. Di antaranya, Sapira Zahwa (12) mengalami luka robek di kepala, Rusdatun Nadia (11) luka di kening, Syifa (12) luka robek di bibir, serta Keisya Lutfi (12) luka robek di kepala. Sementara guru Mira Agustina (37) mengalami luka ringan.

Seluruh korban langsung dilarikan ke RSUD Tengku Rafi’an Siak untuk mendapatkan perawatan medis.

Tangsi Belanda, Saksi Sejarah Kolonial

Tangsi Belanda di Siak merupakan salah satu bangunan peninggalan kolonial Belanda yang dibangun pada akhir abad ke-19. Pada masa VOC dan Hindia Belanda, bangunan ini difungsikan sebagai barak sekaligus tempat penahanan orang pribumi yang dianggap melawan atau tidak sejalan dengan kepentingan kolonial.

Bangunan ini menjadi bagian dari kawasan strategis pengawasan Kesultanan Siak, mengingat posisinya yang tak jauh dari pusat pemerintahan kerajaan. Hingga kini, Tangsi Belanda masih berdiri sebagai objek wisata sejarah, meski sebagian strukturnya telah termakan usia.

Ditutup Sementara

Pasca kejadian, Dinas terkait langsung menutup sementara kawasan Tangsi Belanda untuk pengunjung demi alasan keselamatan. Evaluasi struktur bangunan akan dilakukan sebelum kembali dibuka untuk umum.

Insiden ini menjadi pengingat bahwa bangunan bersejarah bukan hanya menyimpan cerita masa lalu, tetapi juga membutuhkan perhatian serius dalam perawatan dan pengamanan—agar wisata edukasi tak lagi berubah menjadi pengalaman traumatis, terutama bagi anak-anak.***