MERANTI, SERANTAU MEDIA – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Kepulauan Meranti melonjak tajam sepanjang 2025. Dinas Kesehatan setempat mencatat sebanyak 175 warga terinfeksi DBD hingga akhir Desember, meningkat drastis dibandingkan tahun 2024 yang hanya mencatat 31 kasus. Dari jumlah tersebut, dua pasien dilaporkan meninggal dunia.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kepulauan Meranti, Widya Nengsih, menyebut Kecamatan Tebing Tinggi menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni mencapai 75 kasus.
“Kasus terbanyak berada di wilayah kerja Puskesmas Alah Air. Sementara Puskesmas Selatpanjang menangani 59 kasus sepanjang 2025,” ujar Widya, Jumat (23/1/2026).
Memasuki awal 2026, kasus DBD kembali terdeteksi. Hingga Januari, Dinas Kesehatan telah mengonfirmasi empat kasus baru yang tersebar di wilayah kerja Puskesmas Selatpanjang, Puskesmas Alai, dan Puskesmas Kedabu Rapat.
“Kasus sudah muncul sejak awal tahun. Ini menjadi peringatan agar penanganan dilakukan lebih cepat. Jika terlambat, potensi lonjakan kasus sangat besar,” jelasnya.
Dinas Kesehatan menegaskan upaya pencegahan tetap difokuskan pada Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) serta pemantauan jentik secara rutin di lingkungan masyarakat. Seluruh puskesmas juga diminta meningkatkan surveilans aktif, termasuk penelusuran area di sekitar rumah pasien guna mencegah penyebaran lebih luas.
“Kami mengimbau masyarakat untuk konsisten menerapkan 3M Plus dan menaburkan bubuk abate. Abate bisa diperoleh gratis di puskesmas,” tambah Widya.
Selain faktor lingkungan, rendahnya kesadaran sebagian warga untuk segera memeriksakan diri saat mengalami demam juga menjadi perhatian.
Kondisi tersebut dinilai berisiko memperparah keadaan pasien sekaligus menghambat deteksi dini penyebaran DBD di lingkungan sekitar. (Rri/red)