• Fri, Sep 2026

Ketika China Menjadikan Ilmuwan sebagai Selebritas di Billboard Kota

Ketika China Menjadikan Ilmuwan sebagai Selebritas di Billboard Kota


Oleh : Satrio Arismunandar

ADA pemandangan yang cukup tidak biasa terjadi di sejumlah kota di China belakangan ini. Ketika orang berjalan di pusat perbelanjaan, memasuki stasiun kereta bawah tanah, atau melintas di kawasan bisnis, wajah yang muncul di layar-layar raksasa bukan selalu bintang film, penyanyi, atlet, atau model iklan.

Yang muncul justru para ilmuwan. Wajah Qian Xuesen, Deng Jiaxian, Yuan Longping, Tu Youyou, Huang Xuhua dan sejumlah ilmuwan China lainnya menghiasi layar digital dan billboard di tempat-tempat yang biasanya menjadi ruang bagi iklan komersial.

Pemandangan tersebut kemudian menyebar luas di media sosial internasional dan menarik perhatian karena menghadirkan pertanyaan sederhana tetapi menarik: siapa yang dianggap layak menjadi "bintang" dalam sebuah masyarakat?

Fenomena ini bukan kabar yang dibuat-buat. Sejumlah media China melaporkan bahwa sejak Agustus 2026, beberapa pusat perbelanjaan dan ruang komersial mulai menyediakan ruang iklan mereka untuk menampilkan para ilmuwan.

Di Provinsi Shandong, misalnya, beberapa pusat perbelanjaan menampilkan poster besar Qian Xuesen dan ilmuwan lainnya. Dari sana, gerakan serupa muncul di sejumlah daerah lain.

Di Zhengzhou, Provinsi Henan, layar-layar di beberapa stasiun metro menampilkan tokoh-tokoh ilmuwan, antara lain Qian Xuesen, Deng Jiaxian dan Yuan Longping. Sementara di Chongqing, layar raksasa di kawasan pusat kota juga menampilkan Deng Jiaxian, Qian Xuesen dan Huang Xuhua. Pemerintah Kota Chongqing bahkan melaporkan bahwa sejumlah perusahaan ikut menyediakan ruang iklan strategis mereka untuk kampanye penghormatan terhadap ilmuwan.

Menariknya, gerakan ini tampaknya bukan sebuah perintah nasional yang memerintahkan perusahaan untuk menghapus seluruh iklan komersial dan menggantinya dengan ilmuwan.

Laporan yang tersedia menggambarkannya sebagai inisiatif layanan publik yang dilakukan secara sukarela oleh sejumlah pengelola pusat perbelanjaan, perusahaan, dan operator media, kemudian ditiru atau diperluas di daerah lain. Namun justru di situlah daya tarik fenomena ini.

*Dari buku pelajaran ke tengah kota*

Selama ini ilmuwan biasanya hadir dalam ruang yang relatif khusus: buku pelajaran, laboratorium, museum, universitas atau dokumenter televisi. Di China, mereka kini dibawa keluar dari ruang-ruang tersebut dan ditempatkan di tengah kehidupan sehari-hari.

Seorang warga yang pergi berbelanja dapat melihat Qian Xuesen. Penumpang metro dapat berpapasan dengan Deng Jiaxian. Orang yang berjalan di kawasan bisnis dapat melihat Yuan Longping atau Tu Youyou. Dengan kata lain, ilmuwan dipindahkan dari ruang pendidikan ke ruang budaya populer.

Qian Xuesen bukan ilmuwan sembarangan. Ia merupakan salah satu tokoh penting dalam pengembangan program roket dan antariksa China. Deng Jiaxian dikenal sebagai salah satu tokoh utama dalam pengembangan teknologi nuklir China. Yuan Longping dikenal luas karena penelitian padi hibrida. Sementara Tu Youyou memperoleh Nobel Fisiologi atau Kedokteran 2015 atas penelitiannya yang berhubungan dengan terapi malaria melalui artemisinin.

Jadi yang ditampilkan bukan semata-mata wajah mereka, tetapi juga cerita tentang apa yang mereka kerjakan dan bagaimana pekerjaan itu dianggap berkontribusi kepada masyarakat. Inilah yang membuat kampanye tersebut lebih menarik daripada sekadar poster tokoh nasional.

*Siapa yang kita jadikan idola?*

Ada pertanyaan sosial yang lebih dalam di balik fenomena tersebut. Setiap masyarakat memiliki mekanisme sendiri dalam menentukan siapa yang mendapatkan perhatian publik. Dalam masyarakat modern, perhatian adalah sebuah bentuk kekuasaan.

Orang yang terus-menerus muncul di layar akhirnya menjadi familiar. Dan sesuatu yang familiar lebih mudah menjadi sesuatu yang dikagumi.

Selama beberapa dekade terakhir, ruang publik di banyak negara semakin dipenuhi wajah selebritas, influencer, atlet dan tokoh hiburan. Mereka memiliki pengikut jutaan orang dan menjadi bagian dari industri yang sangat besar.

China tampaknya sedang menghadirkan alternatif terhadap pola tersebut. Pesannya kurang lebih sederhana: orang yang menemukan sesuatu, menciptakan teknologi, mengembangkan obat, meningkatkan produksi pangan atau membuka jalan bagi eksplorasi antariksa juga layak mendapatkan perhatian publik.

Bahkan salah satu slogan yang muncul dalam kampanye tersebut menyebut para ilmuwan itu sebagai "bintang" yang patut diikuti. Laporan mengenai fenomena tersebut kemudian memancing respons positif di media sosial internasional. Sejumlah pengguna internet menilai ilmuwan semestinya memperoleh visibilitas publik yang lebih besar dan dapat menjadi teladan bagi anak-anak.

*Ada agenda budaya di baliknya*

Tentu saja, fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari cara China memandang ilmu pengetahuan dan pembangunan nasional.

China selama beberapa dekade menjadikan sains dan teknologi sebagai salah satu fondasi pembangunan. Pemerintah China secara resmi juga telah mempromosikan apa yang disebut sebagai "spirit of Chinese scientists", yang mencakup patriotisme, inovasi, pencarian kebenaran, dedikasi, kerja sama dan pembinaan generasi penerus.

Karena itu, menampilkan ilmuwan di ruang publik mempunyai fungsi lebih luas daripada sekadar mengenang tokoh masa lalu. Ia sekaligus merupakan cara untuk mengatakan kepada generasi muda bahwa sains, teknologi, penelitian dan inovasi merupakan aktivitas yang memiliki prestise sosial.

Pesan semacam itu relevan bagi China yang kini sedang berlomba dalam berbagai bidang teknologi strategis—mulai dari antariksa, kecerdasan buatan dan semikonduktor hingga energi, bioteknologi dan teknologi pertahanan. Ilmuwan bukan hanya dipandang sebagai orang yang bekerja di laboratorium. Mereka ditempatkan dalam narasi pembangunan nasional.

Meski demikian, ada baiknya fenomena ini tidak diberitakan secara berlebihan. Tidak tepat jika dikatakan bahwa seluruh China telah mengganti billboard selebritas dengan ilmuwan.

Yang terverifikasi adalah munculnya kampanye di sejumlah kota dan ruang publik, yang bermula dari beberapa wilayah kemudian menyebar. Tidak ada bukti bahwa seluruh ruang iklan komersial di China telah berubah menjadi galeri ilmuwan.

Namun justru karena sifatnya yang tidak biasa, fenomena ini menarik. Bayangkan sebuah kota yang biasanya menjual telepon seluler, kosmetik, mobil, pakaian dan makanan melalui layar raksasa, kemudian untuk beberapa waktu menggunakan ruang tersebut untuk memperkenalkan orang-orang yang bekerja di balik kemajuan ilmu pengetahuan.

*Popularitas tidak harus selalu identik dengan hiburan*

Di situ terdapat sebuah gagasan kebudayaan yang sederhana tetapi kuat: popularitas tidak harus selalu identik dengan hiburan.

Seorang anak yang melihat wajah Qian Xuesen di layar raksasa mungkin suatu hari bertanya siapa orang itu. Ia kemudian mengetahui tentang roket. Anak lain mengenal Yuan Longping dan bertanya mengapa padi hibrida penting. Yang lain mengenal Tu Youyou dan mengetahui bagaimana penelitian ilmiah dapat menyelamatkan kehidupan manusia.

Itulah mungkin nilai paling menarik dari kampanye tersebut. Bukan soal menggantikan artis dengan ilmuwan. Bukan pula soal mengatakan bahwa selebritas tidak penting. Melainkan tentang memperluas definisi tentang siapa yang pantas dikagumi.

China sedang menunjukkan bahwa ruang publik dapat menjadi ruang pendidikan tanpa harus terlihat seperti ruang kelas. Billboard dapat menjadi buku pelajaran. Stasiun metro dapat menjadi museum berjalan.

Dan wajah seorang ilmuwan yang terpampang di tengah hiruk-pikuk kota dapat menjadi pengingat bahwa di balik kemajuan sebuah negara selalu ada manusia yang menghabiskan bertahun-tahun untuk melakukan sesuatu yang pada awalnya mungkin tidak terlihat oleh publik.

Di tengah dunia yang semakin dikuasai oleh ekonomi perhatian, China tampaknya sedang mencoba mengajukan pertanyaan yang sangat mendasar: Jika anak-anak kita setiap hari melihat siapa yang kita tempatkan di tempat paling mencolok, lalu sebenarnya kita sedang mengajari mereka untuk mengagumi siapa? #

*Satrio Arismunandar adalah penulis,  pelanggan warteg dan penggemar kopi sachetan murah di Depok.