• Thu, Jul 2026

PT Arara Abadi Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi El Niño, Siagakan 34 Pos dan Tambah Personil TRC

PT Arara Abadi Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi El Niño, Siagakan 34 Pos dan Tambah Personil TRC


PERAWANG, SERANTAU MEDIA  - Deretan layar monitor di Fire Situation Room (FSR) PT Arara Abadi-APP Group di Perawang, Kabupaten Siak, terus bergerak menampilkan berbagai data. Titik-titik koordinat, citra satelit, hingga tayangan kamera pengawas terus dipantau selama 24 jam. Dari ruangan inilah setiap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan operasional perusahaan dipantau sebelum berubah menjadi bencana.

Kewaspadaan itu semakin ditingkatkan seiring meningkatnya potensi musim kemarau akibat fenomena El Niño. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan El Niño merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia. 

Kondisi tersebut membuat musim kemarau berlangsung lebih panjang dan meningkatkan risiko kebakaran hutan, terutama di wilayah bergambut seperti Provinsi Riau.

Pengalaman kebakaran besar pada 2015 dan 2019 menjadi pelajaran penting. Saat itu, jutaan hektare lahan terbakar di Indonesia, sebagian besar berada di Sumatera dan Kalimantan, dengan lahan gambut sebagai wilayah paling rentan.

Mengantisipasi kondisi tersebut, PT Arara Abadi-APP Group mengaku telah menyiapkan berbagai langkah sejak akhir 2025. Fire Operation Management Head PT Arara Abadi-APP Group, Richard Sudinardo Sihombing, mengatakan perusahaan membangun 34 pos akses kontrol dan mitigasi di sejumlah titik rawan kebakaran.

"Kami mempersiapkan seluruh sistem sejak akhir tahun lalu karena potensi karhutla diperkirakan meningkat apabila El Niño berkembang sesuai prediksi," ujarnya kepada sejumlah wartawan, Rabu (15/7/2026).

Pos-pos tersebut tersebar di berbagai wilayah operasional, termasuk Pelalawan dan Duri, serta melibatkan TNI dan Polri untuk memperkuat patroli sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.

Selain membangun pos siaga, perusahaan juga memperkuat Tim Reaksi Cepat (TRC). Saat ini terdapat delapan tim yang masing-masing beranggotakan tujuh personel, dan akan ditambah tiga tim baru selama 2026.

Di Fire Situation Room, pengawasan dilakukan melalui jaringan CCTV, sekitar 100 menara pantau setinggi 30 meter, citra satelit, drone, hingga patroli helikopter. Kamera pengawas mampu memantau area hingga radius sekitar 10 kilometer, sementara setiap hotspot yang muncul dalam radius lima kilometer dari konsesi langsung diverifikasi oleh petugas di lapangan.

Menurut Richard, sepanjang Januari hingga Juni 2026, perusahaan menangani 35 kejadian kebakaran. Seluruh titik api tersebut berada di luar area konsesi, namun tetap dipadamkan untuk mencegah api merambat ke dalam wilayah konsesi perusahaan.

"Pemadaman ini berpacu dengan waktu. Semakin cepat petugas tiba, semakin kecil peluang api meluas," katanya.

Untuk mendukung respons cepat, PT Arara Abadi mengoperasikan helikopter Bell 412 berkapasitas 2.000 liter air serta dua helikopter Kamov yang mampu membawa hingga 5.000 liter air untuk operasi water bombing. Armada tersebut didukung 26 helipad dan empat titik penyimpanan bahan bakar avtur di kawasan operasional. Untuk lebih memaksimalkan pemadaman via udara ini, perusahaan rencananya juga akan menambah dua unit helikopter lagi.

1001434638.jpg


Tidak hanya mengandalkan teknologi, perusahaan juga menyiapkan sumber daya manusia yang terlatih. Koordinator Tim Reaksi Cepat (TRC), Sutrisno, mengatakan setiap anggota TRC harus melalui seleksi ketat dan menjalani pelatihan intensif selama tiga bulan bersama instruktur asal Spanyol.

Mereka dibekali kemampuan membaca arah angin, menganalisis perilaku api, menerapkan sistem komando insiden (Incident Command System), hingga teknik evakuasi menggunakan helikopter.

"Analisis harus cepat, fisik harus kuat. Tugas kami adalah menjadi tim pertama yang tiba di lokasi agar api tidak sempat membesar," ujar Sutrisno.

Pendekatan tersebut merupakan bagian dari konsep Integrated Fire Management (IFM) yang mengedepankan pencegahan, deteksi dini, kesiapsiagaan, dan respons cepat. Pendekatan serupa juga direkomendasikan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) sebagai salah satu strategi efektif dalam mengurangi risiko kebakaran hutan.

Di Provinsi Riau, pengendalian karhutla menjadi pekerjaan yang harus dilakukan secara bersama-sama. Pemerintah, aparat keamanan, perusahaan, dan masyarakat dituntut memiliki kesiapsiagaan yang sama, terutama saat musim kemarau mulai memasuki puncaknya.

Di tengah ancaman El Niño, kecepatan mendeteksi titik api menjadi kunci. Sebab, dalam kondisi lahan gambut yang mengering, keterlambatan beberapa jam saja dapat membuat kobaran api meluas dan jauh lebih sulit dipadamkan.

"Hal ini pernah saya alami langsung saat Karhutla tahun 2019. Awalnya terjadi kebakaran dengan jarak 14 KM dari wilayah konsesi perusahaan. Namun hanya dalam waktu dua hari, api sudah berada sangat dekat dengan wilayah lahan konsesi perusahaan. Untung kita dapat segera menangani situasi dengan cepat sehingga kebakaran dapat segera diatasi," kenang Richard. ***