• Wed, Aug 2026

Dari Tradisi ke Platform Digital, Peneliti UMRI–Unilak Petakan Transformasi Sastra Melayu Riau

Dari Tradisi ke Platform Digital, Peneliti UMRI–Unilak Petakan Transformasi Sastra Melayu Riau


PEKANBARU : SERANTAU MEDIA – Tim Peneliti Hibah Penelitian Fundamental Reguler Tahun Pendanaan 2026 menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Pekanbaru, Rabu (26/8/2026), untuk mendalami transformasi sastra Melayu Riau dalam ekosistem komunikasi digital.

Penelitian ini didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia melalui Program Penelitian Fundamental Reguler Tahun 2026. Penelitian dilaksanakan melalui kolaborasi Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) dan Universitas Lancang Kuning (Unilak).

Tim peneliti diketuai Fitria Mayasari, M.A., dengan anggota Alvi Puspita, M.A., Murparsaulian, M.A., dan Fahmi Salsabila, M.Si.

FGD mempertemukan peneliti, sastrawan, akademisi, komunitas budaya, lembaga pemerintah, dan kreator konten untuk menghimpun beragam perspektif mengenai perkembangan sastra Melayu Riau di era digital.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi UMRI, Jayus, S.Sos., M.I.Kom. Dalam sambutannya, Jayus mengapresiasi penelitian kolaboratif yang mengangkat sastra Melayu Riau dalam konteks perubahan teknologi, media, dan pola komunikasi masyarakat.

Menurutnya, sastra Melayu tidak cukup hanya dipertahankan dalam bentuk konvensional, tetapi juga perlu memperoleh ruang yang memadai dalam ekosistem digital agar tetap dekat dengan kehidupan generasi muda.

“Sastra Melayu Riau merupakan bagian penting dari identitas dan kekayaan budaya daerah. Perkembangan media digital memberikan peluang yang semakin luas untuk memperkenalkan dan mengembangkan sastra Melayu kepada generasi saat ini,” ujar Jayus.

Ia berharap penelitian tersebut dapat menghasilkan temuan dan rekomendasi yang bermanfaat bagi keberlanjutan sastra Melayu Riau di tengah perkembangan teknologi dan media digital.

“Transformasi digital tidak seharusnya menghilangkan nilai, makna, dan identitas budaya yang terkandung di dalam karya. Teknologi justru perlu dimanfaatkan untuk memperluas ruang hidup sastra Melayu Riau serta menghubungkannya dengan audiens yang lebih beragam,” lanjutnya.

Ketua Tim Peneliti, Fitria Mayasari, M.A., menjelaskan bahwa keterlibatan berbagai unsur dalam FGD diperlukan untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai perubahan sastra Melayu Riau dalam ekosistem digital.

“Transformasi sastra Melayu Riau tidak hanya berkaitan dengan perpindahan media dari bentuk konvensional ke digital. Di dalamnya juga terjadi perubahan dalam cara karya diproduksi, disebarluaskan, dimaknai, dan diterima oleh masyarakat,” jelas Fitria.

Karena itu, penelitian tersebut melihat transformasi sastra sebagai proses yang melibatkan banyak aktor. Perspektif yang dihimpun mencakup pandangan pemerintah, komunitas, sastrawan, akademisi, kreator konten, hingga audiens digital.

Menurut Fitria, media sosial dan berbagai platform digital membuka peluang bagi karya sastra serta nilai budaya Melayu untuk menjangkau khalayak yang lebih luas. Platform digital juga memungkinkan sastra hadir dalam beragam format baru, seperti video pendek, siniar, pembacaan puisi secara daring, visualisasi cerita, musikalisasi, dan konten kreatif lainnya.

Namun, adaptasi tersebut juga menghadirkan tantangan. Penyederhanaan karya menjadi konten singkat berpotensi mengurangi kedalaman makna apabila tidak dilakukan secara tepat. Karena itu, inovasi format perlu tetap memperhatikan nilai, konteks, bahasa, dan identitas budaya Melayu yang terdapat dalam karya.

FGD menghadirkan sembilan peserta yang mewakili beragam latar belakang. Mereka adalah Marhalim Zaini, S.Sn., M.A., Ketua Suku Seni Riau; Dr. Bambang Karyawan YS, M.Pd., pengurus Forum Lingkar Pena dan sastrawan; Dr. Muhammad Badri, S.P., M.Si., sastrawan dan akademisi; serta Siti Salmah, S.Pd., S.Pd.I., Ketua Komunitas Berida Tutur.

Hadir pula Fakhrunnas M.A. Jabbar, M.I.Kom., sastrawan dan akademisi; Kunni Masrohanti, S.Ag., Ketua Komunitas Budaya Rumah Sunting; Azhar Gultom, Ketua Komunitas Riau Sastra; Irwanto, S.Pd., Tim Literasi Balai Bahasa Provinsi Riau; serta Kafrawi, M.A., sastrawan, kreator konten, dan akademisi.

Diskusi membahas pemanfaatan media sosial dan platform digital, adaptasi karya sastra menjadi konten digital, peran komunitas dan sastrawan, serta keterlibatan generasi muda dalam produksi dan konsumsi karya sastra Melayu.

Peserta juga mendiskusikan perubahan pola interaksi antara pengarang dan pembaca, peluang kolaborasi lintas bidang, persoalan dokumentasi digital, keberlanjutan komunitas, serta tantangan menjaga mutu karya dan identitas budaya Melayu di tengah arus konten yang bergerak cepat.

FGD memandang bahwa transformasi sastra Melayu Riau tidak berlangsung melalui peran satu pihak. Keberlanjutannya membutuhkan keterlibatan pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, sastrawan, media, kreator konten, dan masyarakat sebagai bagian dari ekosistem komunikasi digital.

Hasil FGD selanjutnya menjadi bagian dari data penelitian untuk menganalisis transformasi sastra Melayu Riau sebagai proses multiaktor. Data tersebut akan dipadukan dengan tahapan penelitian lainnya guna memetakan perubahan, peluang, tantangan, dan kebutuhan penguatan sastra Melayu Riau di era digital.

Penelitian ini diharapkan menghasilkan temuan dan rekomendasi strategis bagi pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, serta pelaku sastra dan budaya. Rekomendasi tersebut diarahkan untuk memperkuat keberlanjutan sastra Melayu Riau tanpa melepaskannya dari nilai, makna, dan identitas budaya yang menjadi landasannya.***