• Thu, Feb 2026

Indonesia–AS Bangun Industri Semikonduktor di Batam, Investasi Awal Tembus Rp82 Triliun

Indonesia–AS Bangun Industri Semikonduktor di Batam, Investasi Awal Tembus Rp82 Triliun


JAKARTA, SERANTAU MEDIA - Indonesia menapaki babak baru dalam pengembangan industri semikonduktor nasional. Melalui kemitraan strategis dengan perusahaan asal Amerika Serikat, pemerintah mendorong investasi awal senilai US$4,9 miliar atau sekitar Rp82 triliun untuk membangun ekosistem industri berbasis energi hijau di Batam.

Kesepakatan tersebut diteken dalam rangkaian Proyek Strategis Nasional (PSN) Wiraraja Green Renewable Energy & Smart Eco-Industrial Park (GESEIP) yang berlokasi di Galang, Batam. Presiden RI, Prabowo Subianto , turut menyaksikan langsung penandatanganan kerja sama yang berlangsung di kantor US Chamber of Commerce pada 18 Februari 2026.

Perjanjian pengembangan bersama (Joint Development Agreement) ditandatangani antara PT Galang Bumi Industri sebagai pengelola PSN Wiraraja GESEIP dengan sejumlah mitra Amerika Serikat, di antaranya Essence Global Group dan Tynergy Technology Corporation

Kerja sama ini menjadi tonggak penting dalam agenda hilirisasi industri berbasis sumber daya mineral dan energi terbarukan.

Direktur Utama PT Galang Bumi Industri, Ahmad Maruf Maulana, menegaskan bahwa proyek ini dirancang membangun rantai produksi terintegrasi dari hulu ke hilir. 

Ekosistem industri yang dikembangkan mencakup pemurnian kuarsa silika menjadi bahan baku kaca berkualitas tinggi hingga produksi polysilicon untuk kebutuhan semikonduktor dan panel surya.

Melalui Tynergy Group of Companies, proses hilirisasi akan dijalankan oleh entitas di dalam negeri, termasuk PT Quantum Luminous Indonesia untuk industri kaca serta PT Essence Global Indonesia untuk pemurnian polysilicon. Tahap awal investasi difokuskan pada pembangunan fasilitas dasar dan infrastruktur pendukung industri.

Apabila fase pertama berjalan sesuai rencana, investasi lanjutan sebesar US$26,7 miliar akan digelontorkan untuk memperluas lini produksi hingga tahap ingot wafer, wafer slicing, dan fabrikasi chip. 

Skema ini ditargetkan membentuk rantai produksi semikonduktor terintegrasi di Indonesia, sehingga memperkuat posisi nasional dalam peta industri teknologi global.

Selain sektor manufaktur, proyek ini juga mencakup pembangunan infrastruktur kawasan industri, pengembangan energi terbarukan, peningkatan kapasitas tenaga kerja, serta riset dan pengembangan teknologi mutakhir. Tynergy Technology Corporation bahkan menyiapkan investasi awal hingga US$250 juta untuk membangun fasilitas manufaktur di Galang, dengan estimasi penyerapan sekitar 2.500 tenaga kerja terampil.

Untuk menjamin pasokan energi berkelanjutan, Tynergy Group akan membentuk PT Energy Tech Indonesia yang bertugas membangun fasilitas penyimpanan energi berbasis sodium-ion berkapasitas hingga 150 MW. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen menghadirkan kawasan industri rendah emisi dan ramah lingkungan.

Dalam aspek transfer teknologi, kolaborasi juga diperluas melalui pengembangan dua kawasan ekonomi bebas, yakni PSN Wiraraja GESEIP di Galang dan Solanna Akimel 7 Technopark di kawasan metropolitan Phoenix, Arizona. Kedua zona tersebut dipayungi Pakta Persahabatan Zona Ekonomi Khusus Transnasional sebagai bentuk kemitraan jangka panjang.

Pemerintah memandang investasi ini bukan sekadar pembangunan kawasan industri, melainkan strategi memperkuat ketahanan rantai pasok global semikonduktor dan energi terbarukan. Di tengah meningkatnya kebutuhan chip untuk pusat data berbasis kecerdasan artifisial (AI) serta percepatan transisi energi, Indonesia berupaya mengambil peran lebih signifikan.

Presiden Prabowo menyambut baik kerja sama ini sebagai wujud konkret diplomasi ekonomi Indonesia-Amerika Serikat. Investasi besar di sektor hilirisasi dan energi hijau diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, memperluas lapangan kerja berkualitas, serta meningkatkan daya saing industri Indonesia di pasar global.(CNBC/red)