BENGKALIS, SERANTAU MEDIA - Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis mencatat penambahan 35 kasus baru Human Immunodeficiency Virus (HIV) hingga pertengahan tahun 2026. Temuan tersebut diperoleh dari hasil pemeriksaan yang dilakukan di sejumlah rumah sakit dan puskesmas di wilayah Kabupaten Bengkalis.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis, Irawadi, mengatakan penambahan kasus baru paling banyak ditemukan di RSUD Kecamatan Mandau.
"Paling banyak penambahan kasus baru ini ditemukan dari hasil pemeriksaan di RSUD Kecamatan Mandau, yakni sebanyak 15 kasus," kata Irawadi saat dikonfirmasi, Sabtu 25 Juli 2026.
Selain di RSUD Mandau, lanjut Irawadi, RSUD Bengkalis mencatat sembilan kasus baru HIV. Sementara itu, empat kasus ditemukan di Puskesmas Duri, masing-masing dua kasus di Puskesmas Batu Panjang Rupat dan Puskesmas Bengkalis, serta masing-masing satu kasus di Puskesmas Sungai Pakning, Puskesmas Tenggayun, dan RS Thursina Duri.
"Seperti Puskesmas Duri ditemukan empat kasus baru. Kemudian Puskesmas Batu Panjang Rupat dua kasus, Puskesmas Bengkalis dua kasus, sedangkan Puskesmas Sungai Pakning, Puskesmas Tenggayun, dan RS Thursina Duri masing-masing satu kasus," ujarnya.
Irawadi mengungkapkan, hingga saat ini jumlah Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kabupaten Bengkalis yang menjalani terapi Antiretroviral (ARV) mencapai 307 orang. Sebagian besar penderita merupakan laki-laki.
Berdasarkan hasil penelusuran epidemiologi, mayoritas kasus baru berasal dari kelompok lelaki seks dengan lelaki (LSL) atau yang sekarang tren disebut Boti, disusul kelompok pekerja seks komersial.
"Kasus terbanyak memang berasal dari kelompok LSL yang ada di Bengkalis. Kemudian terbanyak kedua diderita oleh kelompok pekerja seks komersial," ungkapnya.
Melihat tren tersebut, Dinas Kesehatan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan melalui edukasi dan pencegahan, khususnya kepada kalangan remaja.
"Kami mengimbau semua pihak, baik Dinas Pendidikan, sekolah, perguruan tinggi, maupun tokoh agama agar berperan aktif memberikan edukasi kepada masyarakat, terutama anak-anak muda, mengenai pentingnya menghindari perilaku seksual berisiko," katanya.
Menurut Irawadi, kelompok LSL yang ditemukan saat ini banyak menyasar pelaku pemula, yakni remaja yang sebelumnya tidak memiliki perilaku tersebut. "Artinya, kelompok ini menyasar anak-anak yang awalnya tidak menyimpang. Karena didekati oleh pelaku LSL yang sebenarnya, akhirnya mereka ikut terpengaruh," jelasnya.
Ia berharap para orang tua meningkatkan pengawasan terhadap pergaulan anak-anak mereka serta membangun komunikasi yang baik di lingkungan keluarga. "Ini bisa kita cegah bersama dengan memperhatikan lingkungan pergaulan anak-anak kita. Peran keluarga, sekolah, dan masyarakat sangat penting agar perilaku berisiko tidak berkembang di Kabupaten Bengkalis," pungkas Irawadi. (rri/red)
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis, Irawadi. (Foto: rri/red)
Your experience on this site will be improved by allowing cookies
Cookie Policy