• Sat, Jan 2026

Kebakaran Kembali Terjadi di PT ASL Shipyard Batam

Kebakaran Kembali Terjadi di PT ASL Shipyard Batam

Kapal Tanker Terbakar di PT ASL Shipyard Batam, Tidak Ada Korban Jiwa. (Foto : Ist)


BATAM, SERANTAU MEDIA - Asap hitam kembali membumbung di kawasan Tanjung Uncang, Batam. Minggu siang (25/1), api melalap sebuah kapal tanker yang tengah terparkir lama di area PT ASL Shipyard, kawasan industri galangan kapal yang sebelumnya juga pernah dilanda tragedi serupa.

Kapal yang terbakar adalah Elnusa Trans Samudera, anak usaha Pertamina Elnusa. Saat api muncul, kapal tersebut tengah menjalani proses docking—bahkan sudah berada di galangan selama hampir tiga tahun dalam kondisi kosong dan tidak sedang dikerjakan.

“Memang kapal ini sudah lama docking, sekitar tiga tahun, dan dalam kondisi kosong,” ujar Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kepri, Diky Wijaya.

Api terlihat sekitar pukul 14.00 WIB. Tim pemadam internal PT ASL Shipyard bersama unit rescue BP Batam bergerak cepat. Dua jam kemudian, tepat pukul 16.00 WIB, api berhasil dijinakkan sebelum merembet ke kapal atau fasilitas lain di sekitarnya.

Beruntung, kebakaran kali ini tidak menelan korban jiwa. Tidak ada pekerja di dalam kapal, tidak pula aktivitas perbaikan yang sedang berlangsung.

“Tidak ada luka-luka maupun korban meninggal dunia,” tegas Diky.

Hal senada disampaikan Kapolres Barelang Kombes Pol Anggoro Wicaksono. Ia memastikan situasi terkendali dan aparat tengah mengumpulkan data serta keterangan untuk memastikan penyebab kebakaran.

“Betul terjadi kebakaran siang tadi, dan tidak ada korban jiwa,” ujarnya.

Dugaan awal mengarah pada gangguan sistem yang diperparah oleh angin kencang, sehingga api cepat membesar. Namun, penyelidikan lebih lanjut masih dilakukan.

Meski kali ini tak memakan korban, kebakaran di PT ASL Shipyard menyisakan ingatan kelam. Sepanjang tahun 2025, galangan kapal ini dua kali dilanda kebakaran besar—dan semuanya berujung tragedi.

Pada 24 Juni 2025, kebakaran kapal MT Federal II menewaskan empat pekerja dan melukai lima lainnya. Tragedi kembali terulang pada 15 Oktober 2025, jauh lebih memilukan: 14 orang meninggal dunia dan 17 lainnya luka-luka.

Kedua insiden tersebut telah diusut Polresta Barelang. Kebakaran Juni 2025 menetapkan tiga tersangka, sementara kebakaran Oktober 2025 menyeret tujuh tersangka, terdiri dari empat warga negara asing dan tiga WNI, dengan dugaan kelalaian yang mengakibatkan hilangnya nyawa manusia.

Kini, meski api telah padam dan tak ada korban, kebakaran terbaru ini kembali mengingatkan Batam bahwa keselamatan kerja di kawasan industri berat bukan sekadar prosedur di atas kertas. Di Tanjung Uncang, bara ingatan itu belum sepenuhnya dingin. (Ant/cmn/red)