PEKANBARU, SERANTAU MEDIA - Di bawah kilatan lampu biru yang memecah gelap malam Pekanbaru, sejumlah polisi lalu lintas berdiri berjajar di tepi Jalan Diponegoro. Mesin kendaraan pelan-pelan melambat, pengendara menepi, dan satu per satu lampu kendaraan diperiksa.
Malam itu, Sabtu (31/1/2026), Direktorat Lalu Lintas Polda Riau kembali menggelar Blue Light Patrol—patroli rutin yang tak sekadar menindak, tetapi juga mengingatkan bahwa keselamatan adalah tanggung jawab bersama.
Jalan Diponegoro, tepat di depan PMI Riau, menjadi salah satu titik sasaran. Kawasan ini dikenal ramai hingga larut malam, tempat warga berlalu-lalang, remaja berkumpul, dan kendaraan melintas tanpa henti.
Di lokasi inilah petugas menemukan beragam pelanggaran kasat mata: pengendara tanpa helm SNI, sepeda motor tanpa pelat nomor, spion yang dilepas, knalpot brong yang memecah keheningan malam, hingga pengendara yang berboncengan tanpa perlindungan kepala.
“Kami hadir untuk memastikan malam tetap aman,” ujar Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Riau, AKBP Galih Apria, Minggu (1/2/2026). Menurutnya, Blue Light Patrol merupakan agenda rutin untuk menjaga ketertiban dan menekan angka kecelakaan lalu lintas di Kota Pekanbaru.
Namun patroli malam itu bukan semata soal tilang dan penindakan. Di sela pemeriksaan, petugas berdialog langsung dengan pengendara. Ada yang diingatkan dengan nada persuasif, ada pula yang diberi teguran tertulis disertai pendataan.
“Kami mengedepankan pendekatan humanis. Tujuannya agar masyarakat paham, keselamatan di jalan bukan sekadar aturan, tapi kebutuhan,” kata Galih.
Petugas juga mendapati sejumlah pengendara di bawah umur yang nekat membawa kendaraan bermotor. Beberapa pengendara lainnya menjalani pemeriksaan alkohol untuk memastikan tidak ada yang berkendara di bawah pengaruh minuman keras. Langkah ini, menurut Galih, menjadi bagian penting dari pencegahan dini kecelakaan fatal.
“Kami mengimbau orang tua agar tidak memberikan kendaraan kepada anak yang belum cukup usia. Risikonya sangat besar, bukan hanya bagi mereka, tapi juga pengguna jalan lain,” ujarnya.
Patroli malam itu terasa berbeda. Kehadiran awak media yang ikut menyertai kegiatan membuat suasana lebih terbuka, sementara warga sekitar menyambut positif langkah kepolisian. Beberapa pengendara bahkan mengaku merasa lebih aman dengan adanya polisi yang berjaga hingga dini hari.
Kegiatan ini sekaligus menjadi pemanasan jelang Operasi Keselamatan Lancang Kuning 2026 yang akan dimulai pada 2 Februari mendatang, terlebih menjelang bulan suci Ramadan. “Ini bagian dari langkah preventif dan preemtif agar saat operasi berlangsung, masyarakat sudah lebih siap dan sadar tertib berlalu lintas,” jelas Galih.
Malam semakin larut, lampu biru perlahan menjauh dari Jalan Diponegoro. Namun pesan yang ditinggalkan tetap sama: tertib berlalu lintas bukan karena ada polisi, melainkan karena setiap nyawa di jalan raya berharga.
“Kami berharap, dengan edukasi berkelanjutan, Riau bisa menjadi wilayah dengan lalu lintas yang aman, tertib, dan berkeselamatan,” pungkas AKBP Galih Apria. (REI/red)
Personel Ditlantas Polda Riau saat memeriksa alkohol salah satu pengendara yang terjaring balap liar (Foto: Ditlantas Polda Riau)
-
Pemprov Riau Gelar Pasar Murah di 5 Lokasi pada Awal Februari, Ini Jadwal Lengkapnya
01 Feb, 2026 34 views -
Menjaga Jalanan di Tengah Malam, Blue Light Patrol Tekan Pelanggaran Lalu Lintas
01 Feb, 2026 29 views -
Bawa Kayu Tanpa Dokumen Sah, Dua Supir Truk Diamankan Ditreskrimsus Polda Riau
01 Feb, 2026 27 views -
Bangunan Bersejarah Tangsi Belanda Siak Ambruk, Sejumlah Pelajar dan Guru Jadi Korban
31 Jan, 2026 102 views -
Your experience on this site will be improved by allowing cookies
Cookie Policy