BATAM : SERANTAU MEDIA – Badan Pengusahaan (BP) Batam membidik Batam sebagai pusat (hub) kendaraan listrik di Asia Tenggara dengan membangun ekosistem industri yang terintegrasi, mulai dari industri baterai, komponen, pusat logistik, hingga infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik.
Deputi Bidang Investasi BP Batam, Fary Djemy Francis, mengatakan masuknya investasi perusahaan teknologi asal Vietnam menjadi peluang strategis untuk mempercepat pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Batam, bukan sekadar membangun pabrik perakitan.
"Yang ingin kita bangun bukan hanya industri kendaraan listrik, tetapi seluruh ekosistemnya. Mulai dari industri baterai, komponen, pusat logistik, data center, energi hijau, infrastruktur pengisian daya, hingga pusat riset dan inovasi," kata Fary dalam keterangan resmi, Sabtu (1/8/2026).
Menurutnya, langkah tersebut sejalan dengan transformasi BP Batam dalam memperkuat kawasan sebagai destinasi investasi yang menawarkan kepastian regulasi, kemudahan berusaha, dan pelayanan yang cepat.
BP Batam juga tengah membangun Global Investment Ecosystem yang mengintegrasikan ketersediaan lahan, energi, air, pelabuhan modern, Bandara Hang Nadim, kawasan industri, pusat data, konektivitas digital, sumber daya manusia, serta tata kelola yang transparan.
Fary menilai Batam memiliki peluang besar menjadi pusat investasi baru di kawasan karena berada di jalur perdagangan internasional, berstatus Free Trade Zone (FTZ), serta berdekatan dengan Singapura dan Malaysia.
Strategi tersebut diperkuat melalui kegiatan benchmarking BP Batam ke Vietnam. Dari kunjungan itu, BP Batam mempelajari keberhasilan VinGroup dalam membangun ekosistem industri yang mengintegrasikan sektor manufaktur, teknologi, pendidikan, kesehatan, dan mobilitas.
"Investor saat ini tidak hanya mencari lahan atau insentif, tetapi ekosistem yang memberikan kepastian, kecepatan, keberlanjutan, dan peluang berkembang. Itulah arah baru pembangunan Batam," ujar Fary.
Saat ini, melalui VinFast, VinGroup mulai mengembangkan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia yang meliputi fasilitas produksi, jaringan distribusi, hingga infrastruktur pengisian daya. Bersama V-GREEN dan mitranya, perusahaan tersebut menargetkan pembangunan sekitar 63.000 titik pengisian kendaraan listrik di Indonesia dengan nilai investasi sekitar 300 juta dolar AS, termasuk rencana pengembangannya di Batam.
BP Batam menilai pengembangan ekosistem kendaraan listrik tersebut akan memperkuat posisi Batam sebagai kawasan industri dan investasi berkelas dunia sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di sektor kendaraan listrik. (Ant/red)