• Wed, Mar 2026

Berbagi Vape Jadi Petaka, Remaja Ini Nyaris Kehilangan Nyawa

Berbagi Vape Jadi Petaka, Remaja Ini Nyaris Kehilangan Nyawa


JAKARTA, SERANTAU MEDIA — Malam itu seharusnya hanya menjadi satu dari sekian banyak cerita remaja: tawa, teman, dan kebiasaan yang dianggap biasa saja. Namun bagi Sian Alderton, remaja 18 tahun asal Norwich, Inggris, malam di Oktober 2024 itu hampir menjadi garis batas antara hidup dan mati.

Semua bermula dari hal yang tampak sepele—berbagi vape dengan teman-teman. Tidak ada yang terasa janggal saat itu. Hingga dua hari kemudian, tubuhnya mulai memberi sinyal yang tak biasa.

Sang ibu, Kerrie Durrant, menjadi orang pertama yang merasakan ada yang berubah. Putrinya yang biasanya mandiri, tiba-tiba ingin terus berada di dekatnya. Bahkan, sesuatu yang tak pernah terjadi sebelumnya—ia meminta tidur di kasur ibunya.

Malam itu terasa panjang. Durrant tak bisa memejamkan mata. Ia mendengar putrinya gelisah, bolak-balik, seperti sedang melawan sesuatu yang tak terlihat. Kondisinya memburuk dengan cepat.

Rasa haus yang tak wajar membuat Alderton terus minum tanpa henti. Namun di saat yang sama, tubuhnya terasa kaku, sulit digerakkan. Ketika mencoba bangkit menuju kamar mandi, ia bahkan harus merangkak, menahan nyeri yang menjalar di sekujur tubuh.

Di titik itulah, naluri seorang ibu berbicara: ada yang sangat tidak beres.

Tanpa menunggu lebih lama, ia membawa putrinya ke rumah sakit. Keputusan yang kelak terbukti menyelamatkan nyawa.

Di ruang gawat darurat, waktu terasa berjalan lebih cepat dari biasanya. Dokter segera mengambil tindakan dan diagnosis pun keluar: meningitis, infeksi serius yang menyerang selaput otak dan sumsum tulang belakang.

Kondisinya kritis. Alderton harus ditempatkan dalam koma medis. Bahkan, tim dokter memberi peringatan yang menghantam keras—peluang bertahan hidupnya dalam 24 jam ke depan sangat kecil.

Dugaan kuat mengarah pada malam itu. Pertukaran cairan, entah lewat ciuman atau berbagi vape, menjadi pintu masuk infeksi mematikan tersebut. Alderton sendiri tak menampik kemungkinan itu.

Hari-hari berikutnya menjadi pertaruhan antara harapan dan ketakutan. Namun perlahan, keajaiban datang. Setelah melewati masa kritis, Alderton akhirnya bertahan. Ia pulih, tanpa kerusakan otak permanen.

Meski tubuhnya sembuh, bekasnya tak sepenuhnya hilang. Trauma masih membayangi. Ia mengaku kini lebih berhati-hati, bahkan sekadar untuk keluar malam. Keberaniannya baru sebatas duduk santai di kedai kopi, itu pun tak lama.

Ada satu hal yang ia pastikan berubah selamanya: ia tak akan lagi berbagi vape dengan siapa pun.

Kisah ini menjadi pengingat keras, terutama di tengah meningkatnya kasus meningitis di Inggris. Penyakit ini bisa menyerang siapa saja, tanpa pandang usia atau kondisi fisik.

Gejalanya pun kerap menipu, menyerupai flu biasa. Namun ketika tubuh mulai menunjukkan tanda-tanda seperti linglung, nyeri leher hebat, atau perubahan perilaku, waktu menjadi sangat berharga.

Karena dalam hitungan jam, apa yang terlihat seperti sakit ringan bisa berubah menjadi pertarungan hidup dan mati.***