BATAM, SERANTAU MEDIA - Fajar baru saja menyingsing di perairan Tanjung Uncang, Batam, ketika harapan yang nyaris padam akhirnya kembali menyala. Setelah tiga hari pencarian yang menegangkan, tim pencarian dan pertolongan (SAR) gabungan berhasil menemukan seorang anak buah kapal (ABK) yang sebelumnya dinyatakan hilang akibat tugboat yang terbalik di kawasan galangan kapal PT ASL.
Korban bernama Yusuf Tankin ditemukan dalam kondisi selamat pada Minggu (8/3/2026) sekitar pukul 05.00 WIB. Penemuan itu menjadi titik terang dari operasi penyelamatan yang sejak awal dipenuhi ketidakpastian.
Kepala Kantor SAR Kelas A Tanjungpinang, Fazzli, mengatakan sejak awal tim menduga korban masih berada di dalam badan kapal yang terbalik.
“Pencarian hari ini merupakan hari ketiga. Alhamdulillah pagi tadi korban berhasil ditemukan dalam kondisi selamat,” ujarnya.
Upaya penyelamatan tidak mudah. Kapal yang terbalik harus lebih dulu ditarik ke tepi dan dibalikkan sebelum tim dapat melakukan pencarian di bagian dalam. Proses tersebut membutuhkan peralatan khusus dan koordinasi intensif antara berbagai pihak.
Setelah kapal berhasil dibalikkan, tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, manajemen PT ASL, serta unsur terkait lainnya melakukan pemeriksaan pada lambung kapal sebelum akhirnya penyelam diturunkan.
Harapan itu benar-benar terwujud ketika korban ditemukan di ruang mesin. Di ruang sempit tersebut masih terdapat kantong udara yang membuatnya mampu bertahan selama berhari-hari di dalam kapal yang terbalik.
Begitu berhasil dievakuasi, Yusuf segera dilarikan ke Rumah Sakit Mutiara Aini Batam untuk mendapatkan perawatan medis.
Dengan ditemukannya korban terakhir, operasi SAR resmi ditutup. Dari lima orang kru yang berada di kapal saat kejadian, dua orang berhasil selamat sementara tiga lainnya meninggal dunia.
Korban selamat lainnya adalah M. Habib Ansyari. Sementara tiga korban yang meninggal dunia masing-masing Abdul Rahman selaku kapten kapal, Guntur Pardede sebagai chief, serta Jhonson Bertuahman Damanik yang menjabat kepala kamar mesin.
Kecelakaan itu sendiri terjadi pada Jumat (6/3/2026) sekitar pukul 14.30 WIB ketika tugboat tersebut sedang menarik kapal kargo Kyparissia yang tengah menjalani proses docking di galangan PT ASL Tanjung Uncang.
Kantor SAR Tanjungpinang menerima laporan insiden tersebut pada pukul 17.57 WIB. Tim penyelamat dari Batam langsung bergerak menuju lokasi dan tiba beberapa menit kemudian untuk melakukan koordinasi dengan Polairud, KPLP, dan pihak perusahaan.
Insiden ini kembali menyoroti catatan kecelakaan kerja di kawasan galangan kapal PT ASL Batam. Sepanjang 2025, setidaknya terjadi empat kecelakaan kerja di lokasi tersebut dan sebagian di antaranya menelan korban jiwa.
Pada Juni 2025, kebakaran di kapal MT Federal II menewaskan empat pekerja dan melukai lima lainnya. Beberapa bulan kemudian, Oktober 2025, insiden di kapal yang sama bahkan menelan 14 korban jiwa dan melukai 17 pekerja. Menjelang akhir tahun, dua pekerja lainnya meninggal dunia akibat tersengat listrik saat melakukan pengecatan kapal.
Peristiwa demi peristiwa itu menjadikan kawasan galangan kapal ini tak hanya dikenal sebagai pusat industri maritim, tetapi juga sebagai tempat yang menyimpan cerita-cerita getir tentang risiko kerja di tengah kerasnya dunia perkapalan. (Ant/Red)