• Sat, Aug 2026

Ekspedisi Merah Putih Presisi Jangkau Kuala Selat, Menteri LH Komit Tanam 500 Hektare Mangrove

Ekspedisi Merah Putih Presisi Jangkau Kuala Selat, Menteri LH Komit Tanam 500 Hektare Mangrove


INDRAGIRI HILIR : SERANTAU MEDIA – Ekspedisi Merah Putih Presisi Polda Riau kembali menjangkau wilayah pesisir. Kali ini, kegiatan menyambangi Desa Kuala Selat, Kecamatan Kateman, Kabupaten Indragiri Hilir, Sabtu (15/8/2026), dengan membawa misi kemanusiaan, pemberdayaan masyarakat, dan pemulihan lingkungan di kawasan yang terdampak abrasi.

Kegiatan tersebut dihadiri Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak/TPPO Veronica Tan, Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan, Bupati Indragiri Hilir Herman, Founder Tumbuh Institute Rocky Gerung, sosiolog Robertus Robet, serta sejumlah pejabat dan tokoh lainnya.

Rombongan tiba di Kuala Selat dan disambut unsur Forkopimda, masyarakat, serta para pelajar.

Kuala Selat menjadi salah satu lokasi yang menjadi perhatian dalam Ekspedisi Merah Putih Presisi. Kawasan tersebut tercatat mengalami dampak abrasi yang cukup besar. Sekitar 1.700 hektare kebun masyarakat dilaporkan terdampak abrasi pada 2021.

Dalam kegiatan tersebut, rombongan menyerahkan bantuan sembako dari Ekspedisi Merah Putih Presisi, bantuan perahu ketinting, serta matching grants kepada 13 kelompok masyarakat dampingan PPIU M4CR Riau.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan komitmen menjaga pesisir Riau dan aksi penanaman mangrove.

Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan mengatakan Ekspedisi Merah Putih Presisi merupakan upaya untuk menghadirkan negara hingga ke wilayah pesisir dan daerah dengan akses terbatas, sekaligus merespons persoalan yang dihadapi masyarakat.

“Kita ingin masyarakat yang berada jauh di pesisir juga merasakan kehadiran negara. Kita datang membawa kepedulian sekaligus bergerak bersama mencari solusi,” kata Herry.

Menurutnya, persoalan abrasi tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga mengancam ruang hidup dan sumber penghidupan masyarakat pesisir.

“Ketika pesisir tergerus, yang kita pertaruhkan bukan hanya tanah. Ada kebun masyarakat, sumber penghidupan, dan masa depan generasi berikutnya. Menjaga mangrove berarti menjaga masyarakat yang hidup di belakangnya,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menyatakan pemulihan kawasan pesisir Kuala Selat membutuhkan langkah rehabilitasi lingkungan dalam skala besar.

Ia berkomitmen mendorong penanaman mangrove seluas 500 hektare di kawasan terdampak abrasi. Program tersebut diharapkan dapat dikembangkan hingga mencapai 1.000 hektare.

“Saya berkomitmen untuk ikut memastikan penanaman mangrove 500 hektare di tempat yang terabrasi. Mudah-mudahan bisa terpenuhi 1.000 hektare untuk ditanam di wilayah ini sebagai bagian dari pemulihan lingkungan sekaligus pemulihan sosial ekonomi,” katanya.

Menurut Jumhur, program rehabilitasi mangrove tersebut juga diharapkan membuka peluang kerja ramah lingkungan atau green jobs bagi masyarakat setempat.

Ia menegaskan, program pemulihan tidak hanya sebatas penanaman pohon. Masyarakat juga akan dilibatkan mulai dari proses pembibitan, penanaman hingga pemeliharaan mangrove dalam jangka waktu tiga tahun.

“Jadi bukan sekadar menanam lalu ditinggalkan. Mulai dari pembibitan, penanaman sampai pemeliharaan itu teranggarkan, sehingga masyarakat bisa mendapatkan honor untuk pemeliharaan selama tiga tahun,” ujarnya.

Menurutnya, program rehabilitasi tersebut menjadi bagian dari tindak lanjut gerakan Ekspedisi Merah Putih Presisi yang dilaksanakan Polda Riau di Kabupaten Indragiri Hilir.

“Ini tindak lanjut dari gerakan Ekspedisi Merah Putih yang dilakukan Kapolda di Riau, khususnya di Kabupaten Indragiri Hilir. Mudah-mudahan membawa manfaat dan berkah bagi kita semua,” katanya.

Kondisi geografis Kuala Selat menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan kegiatan. Dari Mako Polsek Kateman menuju kawasan terdampak abrasi, perjalanan menempuh jarak sekitar 25 kilometer atau membutuhkan waktu 45 hingga 60 menit menggunakan speedboat.

Sejumlah jalur perairan juga dipengaruhi kondisi pasang surut. Sementara kawasan pesisir memiliki kontur berlumpur dengan kedalaman lumpur di beberapa titik mencapai lutut hingga paha orang dewasa.

Ekspedisi Merah Putih Presisi Polda Riau merupakan rangkaian kegiatan menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Program tersebut menyasar wilayah pesisir, daerah terluar, serta kawasan dengan keterbatasan akses.

Melalui kegiatan di Kuala Selat, misi kebangsaan, kemanusiaan, pemberdayaan masyarakat, dan pelestarian lingkungan diwujudkan melalui penyaluran bantuan sekaligus komitmen rehabilitasi pesisir.

Penanaman mangrove diharapkan dapat menjadi benteng alami untuk menahan laju abrasi, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir Indragiri Hilir.***