• Thu, Jul 2026

Hadiri Peringatan HAN di Tanjungpinang, Menteri PPPA Ajak Gairahkan Permainan Tradisional pada Anak

Hadiri Peringatan HAN di Tanjungpinang, Menteri PPPA Ajak Gairahkan Permainan Tradisional pada Anak

Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi mendampingi Ketum Seruni Selvi Gibran menjajal permainan kelereng. (Foto : Antara)


TANJUNGPINANG : SERANTAU MEDIA – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi mengajak masyarakat menghidupkan kembali permainan tradisional sebagai upaya mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai dan media sosial.

Hal itu disampaikan Arifatul saat menghadiri puncak peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 Tahun 2026 di Laman Tugu Sirih, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Kamis (23/7).

Menurutnya, pembatasan penggunaan gawai tidak cukup hanya dengan melarang anak bermain ponsel, tetapi harus disertai alternatif kegiatan yang menarik.

"Kita tidak bisa begitu saja menyuruh anak berhenti bermain gadget. Solusinya adalah menghadirkan permainan tradisional berbasis kearifan lokal," ujar Arifatul.

Ia menjelaskan, Kementerian PPPA telah menginisiasi penguatan permainan rakyat sejak peringatan Hari Anak Nasional 2025 sebagai respons terhadap meningkatnya penggunaan media sosial di kalangan anak.

Selain mengurangi ketergantungan pada gawai, permainan tradisional dinilai mampu membangun interaksi sosial, menanamkan nilai kebersamaan, sportivitas, budaya antre, saling menghargai, serta mendorong kreativitas anak.

Karena itu, Arifatul mengajak pemerintah daerah, sekolah, keluarga, dan seluruh elemen masyarakat untuk kembali menggalakkan permainan tradisional sebagai bagian dari upaya menciptakan keseimbangan antara aktivitas digital dan interaksi di dunia nyata.

Ia juga menegaskan peringatan Hari Anak Nasional tidak boleh sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi harus menjadi momentum meningkatkan kepedulian terhadap pemenuhan hak dan perlindungan anak di tengah tantangan era digital.

Dalam kesempatan tersebut, Forum Anak Indonesia turut menyampaikan 12 poin Suara Anak Indonesia yang dihimpun dari 38 provinsi. Arifatul memastikan seluruh aspirasi tersebut akan ditindaklanjuti bersama kementerian terkait melalui dialog langsung dengan anak-anak dari berbagai daerah.

"Anak-anak hari ini adalah pemimpin Indonesia di masa depan. Karena itu, hak dan perlindungan mereka harus menjadi prioritas bersama," katanya. (Ant/red)