NATUNA : SERANTAU MEDIA – Sebanyak 38.500 bibit kelapa dalam akan disalurkan Kementerian Pertanian (Kementan) kepada 497 petani di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, untuk mengembangkan perkebunan kelapa seluas 350 hektare.
Bupati Natuna Cen Sui Lan mengatakan bantuan tersebut merupakan bagian dari usulan pengembangan perkebunan kelapa seluas 500 hektare yang diajukan pemerintah daerah kepada Kementan. Usulan itu kemudian disetujui secara bertahap hingga mencapai 350 hektare.
“Kami usulkan pengembangan kelapa dalam pada lahan 500 hektare ke Kementan dan disetujui secara bertahap, hingga terakhir disetujui 350 hektare dengan bantuan 38.500 bibit,” kata Cen Sui Lan di Natuna, Sabtu (22/8/2026).
Sebelum bibit disalurkan, para petani mendapat pendampingan dari perwakilan Kementan mengenai teknik budidaya kelapa. Materi yang diberikan meliputi persiapan lahan, pembuatan lubang tanam, penanaman hingga perawatan tanaman.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Natuna Wan Syazali mengatakan 497 petani penerima bantuan tergabung dalam 34 kelompok tani.
Selain bibit, petani juga akan menerima pupuk serta dukungan pembiayaan untuk persiapan dan pengolahan lahan hingga proses penanaman.
“Bibit berasal dari kelapa lokal unggul dibuktikan dengan sertifikat hasil sertifikasi lembaga resmi,” ujar Wan Syazali.
Ia mengatakan bantuan sebanyak 38.500 bibit tersebut dijadwalkan mulai disalurkan pada Oktober 2026. Program itu merupakan bagian dari bantuan peremajaan dan perluasan perkebunan kelapa.
Untuk program perluasan perkebunan, bantuan diarahkan ke Kecamatan Bunguran Tengah dan Bunguran Batubi. Sementara program peremajaan dilakukan di Bunguran Timur, Bunguran Timur Laut, Bunguran Selatan dan Bunguran Utara.
Natuna menjadi daerah penerima bantuan bibit kelapa terbanyak dibandingkan tiga kabupaten lain di Kepri yang juga mendapatkan program serupa.
Wan menekankan keberhasilan pengembangan kelapa tidak hanya bergantung pada ketersediaan bibit, tetapi juga ketepatan teknik budidaya sejak awal penanaman.
“Keberhasilan program hilirisasi kelapa bergantung pada tahap awal penanaman. Karena itu, bimbingan ini harus diikuti dengan baik, terutama memahami teknik pembuatan lubang tanam dan penggunaan pupuk yang tepat,” katanya.
Pemerintah berharap program tersebut dapat meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sekaligus menjadi fondasi pengembangan hilirisasi komoditas kelapa di Natuna.***