SIAK : SERANTAU MEDIA – Luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Siak, Riau, mencapai 273,423 hektare hingga 10 September 2026. Kondisi tersebut mendorong Kementerian Kehutanan menyiapkan strategi khusus untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran, terutama di kawasan gambut.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Siak Novendra Kasmara mengatakan dari total luasan karhutla tersebut, 111,33 hektare berada di kawasan hutan, sedangkan sisanya merupakan lahan masyarakat.
"Kalau sampai 10 September 2026, luas karhutla di Siak mencapai 273,423 hektare. Sebanyak 111,33 hektare berada di kawasan hutan, sedangkan sisanya lahan masyarakat," kata Novendra, Jumat (11/9/2026).
Menurut dia, penanganan karhutla telah dilakukan secara terpadu sejak status siaga ditetapkan pada Februari 2026. Pemerintah daerah membentuk Satgas Karhutla yang melibatkan berbagai unsur, termasuk TNI-Polri, Manggala Agni, BPBD, perusahaan dan masyarakat.
Petugas juga melakukan patroli dan mitigasi serta memantau hotspot dan fire spot secara berkala untuk dilaporkan kepada pemerintah provinsi hingga BNPB.
Namun, memasuki Agustus hingga September 2026, eskalasi kebakaran meningkat di sejumlah lokasi. Kebakaran antara lain terjadi di kawasan Taman Nasional Zamrud, Kampung Dayun, Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu hingga Tasik Betung.
Kondisi itu membuat personel dan peralatan harus dikerahkan ke sejumlah titik secara bersamaan. Petugas juga menghadapi keterbatasan anggaran, alat berat, logistik dan kebutuhan operasional untuk menangani kebakaran, terutama di lahan gambut.
"Tantangan terbesar di lapangan adalah keterbatasan anggaran, alat berat, logistik, serta kebutuhan operasional untuk penanganan kebakaran di lahan gambut," ujar Novendra.
Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan Thomas Nifinluri mengatakan pemerintah pusat akan menyiapkan strategi untuk memperkuat pengendalian karhutla di Siak.
Strategi tersebut mencakup modifikasi cuaca serta peningkatan pemantauan melalui darat dan udara dengan mengerahkan sumber daya yang tersedia.
"Kita akan siapkan strategi, mulai dari modifikasi cuaca, bahkan skema pemantauan darat dan udara dengan mengerahkan sumber daya yang ada," kata Thomas saat berkunjung ke Siak, Jumat (11/9/2026).
Thomas menilai kolaborasi berbagai pihak menjadi faktor penting dalam penanganan karhutla di Siak. Menurut dia, pemerintah daerah, TNI-Polri, Manggala Agni, BPBD, perusahaan dan masyarakat telah menunjukkan semangat gotong royong dalam memadamkan kebakaran.
"Kami mendapat laporan, kerja sama dan kolaborasi gotong royongnya sangat luar biasa. Memang kerja-kerja seperti ini yang seharusnya terus digelorakan karena menjadi kunci dalam pengendalian karhutla," ujarnya.
Dia mengatakan Siak memiliki tingkat kerawanan karhutla yang tinggi karena sebagian wilayahnya berada dalam kawasan hidrologi gambut yang luas. Karena itu, penanganan kebakaran harus memperhatikan karakteristik kawasan gambut dan dilakukan secara terukur.
Kondisi tersebut semakin menjadi perhatian karena BMKG memprediksi puncak musim kemarau berlangsung pada September dan berpotensi berlanjut hingga awal 2027.
Sebelumnya, Wakil Bupati Siak Syamsurizal memaparkan kondisi penanganan karhutla kepada pemerintah pusat sekaligus menyerahkan dokumen permohonan dukungan kepada Kementerian Kehutanan.
Syamsurizal mengatakan sebagian besar kebakaran terjadi di lahan gambut dan kawasan hutan sehingga membutuhkan penanganan serius. Keterbatasan sarana, peralatan dan anggaran operasional menjadi kendala dalam penanganan di lapangan.
Meski demikian, dia memastikan seluruh unsur yang terlibat terus melakukan pemadaman dan tidak membedakan lokasi maupun pihak yang terdampak.
"Kami bekerja seikhlas-ikhlasnya tanpa memandang bulu, kami berusaha bagaimana agar api segera padam. Karena yang kami jaga adalah keselamatan masyarakat sekaligus kawasan hutan tempat satwa tinggal yang juga menjadi aset negara," kata Syamsurizal.
Dia berharap dukungan pemerintah pusat dapat memperkuat penanganan karhutla di Siak, terutama menghadapi musim kemarau yang masih berlangsung.(mcr)