• Tue, Apr 2026

NasDem Bantah Isu Merger dengan Gerindra, Tegaskan Konsep “Political Block"

NasDem Bantah Isu Merger dengan Gerindra, Tegaskan Konsep “Political Block"

Willy Aditya Ketua DPP Partai NasDem


SERANTAUMEDIA.ID | JAKARTA — Ketua DPP Partai NasDem Willy Aditya membantah kabar yang menyebut partainya akan melebur atau melakukan merger dengan Partai Gerindra. Ia menegaskan bahwa pernyataan Ketua Umum NasDem Surya Paloh selama ini disalahartikan. Yang dimaksud bukanlah penggabungan partai, melainkan pembentukan political block atau blok politik.

“Gini teman-teman, biar tidak sesat berpikir. Ini kan tentang istilah, tapi istilah itu substansi. Saya bercanda itu harus teman-teman lihat apa sih referensi kita. Pak Surya tuh orang yang concern terhadap apa ya situasi politik kita. Apa referensi kita berpolitik itu political block. Ini orang yang membahas ini miskin, saya katakan miskin literatur politik. Maka dia pakai istilah merger,” kata Willy kepada wartawan di DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (13/4/2026).

Menurut Willy, penggunaan istilah “merger” keliru karena berasal dari dunia korporasi dan tidak tepat untuk menggambarkan kerja sama antarpartai politik. Ia menyayangkan munculnya narasi yang dianggap menyederhanakan gagasan tersebut.

“Gunakanlah istilah referensi yang tepat untuk sesuatu hal yang tepat. Jangan kemudian gebyah-uyah. Kalau lu nggak ngerti atau lu ingin mendiskreditkan, itu lain cerita. Saya mau tanya orang yang men-discourse-kan ini sedang mendiskreditkan NasDem dan Gerindra atau dia tidak mengerti tentang literatur politik, yang dia tahu cuma bacot saja,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam sejarah politik Indonesia memang pernah terjadi fusi partai, seperti penggabungan partai-partai Islam ke dalam PPP dan partai-partai nasionalis ke dalam PDIP. Namun, menurut dia, konteks tersebut berbeda dengan gagasan yang kini ditawarkan Surya Paloh.

“Miskin sekali. Saya sebenarnya menyayangkan orang-orang yang tidak baca ini, bacotnya ke mana-mana, bacanya nggak. Dia harusnya menangkap Pak Surya tuh orang yang berpikir out of the box. Kan kita selama ini berpikir cuma sekretariat bersama, partai koalisi. Koalisi itu dalam proses kandidasi. Sementara di dalam proses government kita tidak mengenal koalisi, kita kan presidensial. Pemerintahan koalisi itu dikenal di dalam parlementer,” kata Willy.

Ia menjelaskan bahwa political block merupakan bentuk rekayasa politik yang bertujuan memperkuat kerja sama berbasis kebijakan, bukan sekadar kepentingan jangka pendek.

“Apa yang ditawarkan oleh seorang Surya Paloh adalah political block, blok politik, bukan merger. Apa itu political block? Ini adalah sebuah political engineering, bagaimana perjuangan-perjuangan kebijakan itu menjadi suatu tarikan napas, tidak transaksional. Kan selama ini kan transaksional banget ya,” ujarnya.

Willy menilai pola kerja sama politik antarpartai selama ini cenderung minimalis dan pragmatis. Ia menyebut narasi yang berkembang justru berkutat pada perpindahan politikus atau pembentukan partai baru.

“Pak Surya penuh dengan sebuah pertimbangan yang reflektif, kenapa? Ya kecenderungan partai politik kita di dalam proses kerja sama politik itu minimalis. yang ada ya teman-teman bisa lihat lah, nggak setuju gabung ke sini, nggak setuju ke sini. Sehingga narasi yang dominan di kita itu satu kalau nggak kutu loncat, yang kedua buat partai baru, iya kan? Benar nggak? Itu narasi yang dominan di kita. Tapi kita tidak pernah punya narasi, bagaimana kita bisa melakukan proses political engineering secara kolektif bersama-sama dan independensi itu tetap ada, yang mempersatukan kita adalah objektif,” katanya.

Ia juga menanggapi pertemuan antara Surya Paloh dan Presiden Prabowo Subianto yang belakangan menjadi sorotan. Menurut Willy, pertemuan tersebut merupakan hal wajar antara dua tokoh yang memiliki hubungan lama.

“Wajar aja. Dua sahabat bertemu. Teman-teman bisa bayangkan ketika pertama kali Pak Prabowo datang ke Gondangdia, kami diskusi enam jam tentang banyak hal. Di mana ada hal yang lebih akrab yang lebih intimate untuk bisa berdialektika seperti itu. Seorang Surya Paloh dengan seorang Pak Prabowo waktu itu bisa berdiskusi secara equal tentang banyak hal. Saya dan kawan-kawan waktu itu yang di second layer-nya bisa menerjemahkan dalam kerangka politik kerja sama yang seperti apa. Itu justru lebih produktif,” ujarnya.

Ia menilai narasi yang berkembang terkait pertemuan tersebut cenderung bernada negatif dan tidak konstruktif.

“Ini narasinya terlalu negative tone, imajinasi berepubliknya nggak ada, imajinasinya konflik, rusuh. Harusnya kita mengedepankan, memajukan imajinasi berepublik. Apa imajinasi berepublik itu? Political block, dan itu belum pernah di-exercise,” kata Willy.