• Sun, Aug 2026

Puisi Dodi Irawan Bakaghojoo Getarkan Rapat Paripurna HUT Riau di Gedung DPRD

Puisi Dodi Irawan Bakaghojoo Getarkan Rapat Paripurna HUT Riau di Gedung DPRD


PEKANBARU : SERANTAU MEDIA – Suasana Rapat Paripurna DPRD Provinsi Riau dalam rangka Hari Jadi ke-69 Provinsi Riau, Minggu (9/8/2026) yang semula berlangsung formal dan khidmat berubah menjadi penuh semangat dan menggelora. Suara lantang Dodi Irawan Bakaghojoo dan Iskandar Zulkarnain saat membacakan puisi berjudul "Laksamana Riau" mampu menggetarkan hati para undangan yang hadir. 

Dodi Irawan Bakaghojoo merupakan anggota Komisi IV DPRD Riau dari Dapil Inhu-Kuansing, sedangkan Iskandar Zulkarnain meruapakan Tenaga Ahli Bapemperda DPRD Riau. Keduanya sama-sama merupakan alumni Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim. 

Dijelaskan Dodi, Puisi Laksamana Riau tidak sekadar menghadirkan romantisme tentang sejarah Melayu. Karya tersebut membawa pesan tentang pentingnya menjaga marwah, jati diri, budaya, sekaligus keberanian menghadapi persoalan Riau di tengah perubahan zaman.

"Puisi itu menjadikan sosok laksamana sebagai simbol kepemimpinan dan tanggung jawab generasi masa kini dalam menjaga warisan Melayu," jelasnya.

Lancang Kuning kemudian menjadi simbol penting dalam puisi tersebut. Kapal tradisional Melayu itu digambarkan terus berlayar dari sungai menuju muara hingga samudera. Metafora tersebut menggambarkan perjalanan identitas Melayu yang harus mampu melewati perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri.

Pesan itu diperkuat melalui larik, “Lancang kuning janganlah karam, walau badai datang menerpa, selagi Melayu menjunjung alam, takkan hilang jati diri bangsa.”

Dodi juga menghadirkan sejumlah nama dari sejarah Melayu dan perjuangan di Riau, seperti Narasinga, Tuanku Tambusai, dan Sultan Syarif Kasim. Namun, tokoh-tokoh tersebut tidak sekadar ditempatkan sebagai bagian dari masa lalu. 

Dodi menyerukan lahirnya generasi baru yang memiliki semangat serupa. “Hidupkan Narasinga-Narasinga muda, bangkitlah Tambusai-Tambusai modern, lahirlah Sultan Syarif Qasim milenial,” tulisnya.

Pesan tersebut menunjukkan adanya dorongan agar generasi muda tidak hanya mengenal sejarah, tetapi juga meneruskan nilai keberanian, kepemimpinan, pengabdian, dan kecintaan terhadap negeri yang melekat pada tokoh-tokoh tersebut.

Dodi mengaku senang diberi kesempatan untuk membacakan puisi karyanya di momen istimewa Hari Jadi Riau ke-69. Penulis buku Puisi 'Pesajian' dan 'Kiblatain' ini berharap karya sastra dapat terus dinikmati dan dihayati oleh seluruh lapisan masyarakat. 

"Lewat karya sastra seperti puisi, kita coba menyampaikan pesan langsung ke relung hati sehingga pesan tersebut dapat lebih diingat," ujar Bendahara Perkumpulan Penulis Satupena Riau tersebut. ***