• Sat, Apr 2026

AS Minta Gencatan Senjata, Iran Jawab dengan Serangan Besar-Besaran

AS Minta Gencatan Senjata, Iran Jawab dengan Serangan Besar-Besaran

Ebrahim Zolfaghari, juru bicara Markas Besar Khatam al-Anbiya, komando pusat angkatan bersenjata Iran.


TEHERAN, SERANTAU MEDIA – Amerika Serikat (AS) dilaporkan mengiba gencatan senjata 48 jam dengan Iran pada 2 April melalui negara ketiga. Iran menolak permintaan itu dengan meluncurkan serangan balasan besar-besaran.

Hal ini dilaporkan kantor berita Fars melaporkan pada Jumat. “AS pada 2 April mengusulkan gencatan senjata 48 jam melalui salah satu negara sahabat,” kata sumber itu kepada Fars.

Usulan tersebut muncul setelah “meningkatnya ketegangan dan tantangan yang dihadapi pasukan AS di kawasan,” tambah sumber itu. Menurut kantor berita tersebut, Iran tidak menanggapi secara tertulis namun membalas “di lapangan” dengan melanjutkan serangan besar-besaran.

Sumber tersebut juga mengatakan bahwa “upaya diplomatik AS untuk menghentikan pertempuran telah meningkat, terutama setelah adanya laporan serangan terhadap depot militer AS di Pulau Bubiyan di Kuwait.”

Awal pekan ini, Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran-lah yang meminta gencatan senjata. Iran langsung membantah klaim tersebut. 

The Wall Street Journal (WSJ) melaporkan pada hari Jumat bahwa upaya Pakistan untuk menengahi gencatan senjata menemui jalan buntu setelah Teheran bersikeras bahwa pihaknya tidak mau bertemu dengan pejabat AS di Islamabad. Ini mengingat apa yang mereka sebut sebagai tuntutan Amerika yang tidak dapat diterima.

Sementara itu, Iran menginginkan penarikan AS dari semua pangkalannya di Timur Tengah, dan kompensasi atas kehancuran yang terjadi di sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur integral lainnya.  Turki, Mesir, dan Qatar dilaporkan berusaha melakukan upaya mediasi, mengingat hubungan kuat mereka dengan pemerintahan Trump. 

WSJ juga melaporkan bahwa Qatar menolak tekanan untuk menjadi mediator dalam setiap kemungkinan perundingan gencatan senjata. WSJ mengatakan bahwa AS dan negara-negara regional bersandar pada mereka untuk memainkan peran tersebut, namun sejauh ini mereka menolak.

Press TV melansir, pasukan perlawanan Iran dan sekutunya mengeksekusi Gelombang 93 dalam kampanye pembalasan mereka terhadap agresi AS-Israel, dengan memberikan serangan tepat ke tempat-tempat penting militer Israel jauh di dalam wilayah pendudukan.

Gelombang 93 dari Operasi Janji Sejati 4 dilaksanakan pada Jumat sore terhadap sasaran di utara dan jantung wilayah pendudukan, dan didedikasikan untuk pemimpin Hizbullah yang dibunuh Israel Hassan Nasrallah dan pendiri Hamas Sheikh Ahmad Yassin, menurut pernyataan Korps Pengawal Revolusi Islam.

Selama serangan sengit ini, pusat pengumpulan dan dukungan tempur Zionis di Galilea Barat, Haifa, Kafr Kanna, dan Krayot diserang secara tepat, kata pernyataan itu.Merinci eksekusi taktisnya, gelombang ini dilakukan sebagai operasi gabungan dengan kelompok Hizbullah dan kombinasi rudal berbahan bakar padat dan cair, jarak jauh dan berpemandu, serta drone bunuh diri. Dikatakan bahwa gelombang peluncuran drone dan rudal “akan terus berlanjut, tanpa henti, dan tembakan demi tembakan.”

Ebrahim Zolfaghari, juru bicara Markas Besar Khatam al-Anbiya, dalam sebuah pernyataan pada Sabtu pagi, mengancam akan melakukan serangan dahsyat terhadap aset-aset Amerika dan Israel serta infrastruktur negara-negara yang terus menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.

Peringatan ini muncul sebagai respons langsung terhadap ancaman Trump baru-baru ini untuk terus menargetkan infrastruktur sipil Iran, seperti jembatan, pembangkit listrik, serta fasilitas listrik dan energi.

Komando militer Iran memperingatkan bahwa jika ancaman Trump benar-benar dilakukan, angkatan bersenjata Republik Islam akan merespons dengan kekuatan yang luar biasa.
“Sebagai tanggapan terhadap retorika Presiden AS yang menghasut dan ancamannya yang berulang-ulang mengenai penghancuran jembatan, pembangkit listrik, serta infrastruktur listrik dan energi Iran, kami memperingatkan sekali lagi,” tegas juru bicara tersebut.

Juru bicara tersebut memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Iran, selain akan menyerang seluruh aset rezim Zionis dan AS, juga akan menargetkan “sektor-sektor yang lebih penting dan luas di ibukota mereka – serta negara-negara tuan rumah dan sekutu AS dan rezim Zionis.” (republika/red)