BATAM : SERANTAU MEDIA — Menjelang Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah, jasa penukaran uang pecahan baru marak ditawarkan di media sosial di Batam. Layanan ini mematok biaya administrasi Rp10.000–Rp12.000 per Rp100.000.
Praktik tersebut diminati warga yang kesulitan mendapatkan kuota penukaran melalui layanan resmi. Ade, warga Nongsa, mengaku gagal mendaftar lewat laman PINTAR Bank Indonesia karena prosesnya lama dan kuota cepat habis.
“Sudah coba daftar, tapi gagal terus dan kuotanya habis. Mungkin akhirnya tukar lewat media sosial,” ujarnya, Senin (23/2/2026) seperti dikutip dari Bisniscom.
Ia menilai tarif jasa berpotensi naik seiring meningkatnya permintaan jelang Lebaran. Namun, ia masih menunggu THR suaminya sebelum menukar uang.
Menanggapi fenomena itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Ronny Widijarto, mengimbau masyarakat menukar uang melalui jalur resmi seperti perbankan atau layanan kas keliling guna menjamin keaslian rupiah.
BI juga mendorong penggunaan transaksi non-tunai berbasis QRIS selama Ramadan untuk mengurangi risiko uang palsu dan mempermudah transaksi.
Bagi masyarakat yang tetap menggunakan uang tunai, BI mengingatkan penerapan metode 3D (Dilihat, Diraba, Diterawang) untuk memastikan keaslian uang.
“BI Kepri terus berkoordinasi dengan perbankan dan aparat penegak hukum guna mengantisipasi peredaran uang palsu saat perputaran uang meningkat menjelang pembagian THR dan Lebaran,” tegas Ronny. ***