• Fri, Feb 2026

Latihan Militer Iran dan Rusia, Pesan Tegas Kepada Amerika Yang Terus Mengancam

Latihan Militer Iran dan Rusia, Pesan Tegas Kepada Amerika Yang Terus Mengancam

Personil militer Iran dan Rusia melakukan latihan Militer bersama (foto; Al-Arabiya)


JAKARTA, SERANTAU MEDIA⁠⁠⁠⁠⁠⁠— Di tengah negosiasi nuklir yang kembali tersendat, Iran dan Rusia memulai latihan angkatan laut bersama di Teluk Oman dan Samudra Hindia bagian utara, wilayah yang berdekatan dengan Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sepertiga pasokan minyak dan gas alam cair global.

Latihan ini dipimpin oleh Laksamana Muda Hassan Magsoudlu dan secara resmi disebut bertujuan “memperkuat keamanan maritim.” Namun waktunya sulit dianggap kebetulan. 

Hanya beberapa hari sebelumnya, pembicaraan tidak langsung antara Teheran dan Amerika Serikat di Jenewa berakhir tanpa terobosan berarti, sebagaimana diberitakan Euronews.

Putaran kedua pembicaraan yang dimediasi Oman memang melaporkan “tanda-tanda positif”. Gedung Putih pun mengakui adanya kemajuan terbatas. Namun pernyataan juru bicara Karoline Leavitt bahwa “kita masih sangat jauh berbeda pendapat” menjadi penanda realitas: jarak kepercayaan masih lebar.

Strategi Washington tampak berjalan di dua jalur paralel, diplomasi dan tekanan militer. Presiden Donald Trump memperkuat kehadiran angkatan laut AS di kawasan. Gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln telah beroperasi di wilayah tersebut. Kelompok kedua yang dipimpin USS Gerald R. Ford bergerak menuju Mediterania dan Teluk Persia.

Jika kedua formasi ini berada dalam posisi operasional penuh pada pertengahan Maret, Washington akan memiliki daya tembak yang signifikan di lepas pantai Iran.

Namun hingga kini, belum ada perintah serangan. Diskusi di Gedung Putih disebut masih berlangsung, menimbang risiko eskalasi versus risiko dianggap lemah.

Secara paralel dengan latihan Rusia-Iran, Korps Garda Revolusi Islam Iran juga menggelar manuver sendiri di Selat Hormuz. Teheran bahkan sempat menutup sebagian jalur tersebut selama beberapa jam dengan alasan keamanan.

Iran memang tidak pernah benar-benar memblokir Selat Hormuz. Tetapi ancaman penutupan saja sudah cukup untuk mengguncang pasar energi global. 

Jalur air sempit ini bukan sekadar simbol kekuatan; ia adalah nadi ekonomi dunia. Setiap eskalasi militer di sini otomatis menjadi krisis internasional.

Kini, retorika kembali meninggi. Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, bahkan mengunggah ilustrasi AI yang menggambarkan kapal induk Amerika tenggelam. Pesannya jelas: Iran memiliki kemampuan balasan.

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disebut terus mendorong sikap keras terhadap Teheran. Laporan media AS menyebut bahwa Washington bahkan mempertimbangkan skenario mendukung serangan terhadap program rudal balistik Iran jika diplomasi gagal.

Secara strategis, latihan Rusia-Iran mengirim dua sinyal sekaligus. Bagi Iran, ini adalah pesan bahwa mereka tidak sendirian menghadapi tekanan Barat. Bagi Rusia, ini adalah kesempatan memperluas pengaruhnya di kawasan yang selama ini didominasi Amerika.

Latihan semacam ini memang sudah berlangsung sejak 2019. Namun kali ini momentumnya berbeda: diplomasi rapuh, armada AS membesar, Israel gelisah, dan pasar energi sensitif.

Eropa, melalui Komisi Eropa, menyerukan agar semua pihak mematuhi hukum internasional dan menahan diri. Namun pernyataan diplomatik sering kali terdengar lirih di tengah deru mesin kapal induk. ***