• Sun, Feb 2026

Pemko Batam Fasilitasi Pendidikan Anak Pengungsi, 67 Anak Ikuti Sekolah Formal

Pemko Batam Fasilitasi Pendidikan Anak Pengungsi, 67 Anak Ikuti Sekolah Formal

Sekdako Batam menjawab pertanyaan wartawan usai Rakor Penanganan Pengungsian Luar Negeri di Daerah yang digelar di Kantor Wali Kota Batam, Rabu (28/1/2026). (Foto: HUMAS DISKOMINFO)


BATAM : SERANTAU MEDIA – Pemerintah Kota Batam terus memperkuat pemenuhan layanan dasar bagi pengungsi luar negeri, terutama di bidang pendidikan anak. Hingga kini, sebanyak 67 anak pengungsi telah mengenyam pendidikan formal di berbagai jenjang sekolah di Batam, sementara 38 anak lainnya mengikuti program persiapan sekolah.

Sekretaris Daerah Kota Batam, Firmansyah, menyampaikan hal tersebut saat mewakili Wali Kota Batam Amsakar Achmad dan Wakil Wali Kota Batam Li Claudia Chandra dalam Rapat Koordinasi Penanganan Pengungsi Luar Negeri di Daerah, yang digelar di Kantor Wali Kota Batam, Rabu (28/1/2026).

Menurut Firmansyah, akses pendidikan menjadi prioritas utama Pemko Batam guna memastikan hak anak pengungsi tetap terpenuhi. Selain pendidikan reguler, anak pengungsi berkebutuhan khusus juga telah difasilitasi untuk bersekolah di Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB).

Saat ini, Kota Batam menampung 359 pengungsi yang didampingi International Organization for Migration (IOM). Mereka ditempatkan di dua lokasi, yakni Hotel Kolekta Lubuk Baja dan Akomodasi Non-Detensi Sekupang. Mayoritas pengungsi berasal dari Afghanistan sebanyak 227 orang, disusul Sudan 84 orang, Somalia 20 orang, serta negara lainnya.

Firmansyah menegaskan, sebagai daerah perbatasan dan kawasan strategis nasional, Batam menghadapi tantangan khusus dalam penanganan pengungsi. Karena itu, koordinasi lintas sektor terus diperkuat, termasuk pengelolaan hunian, pelayanan sosial, serta menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan.

Selain pendidikan, Pemko Batam juga meningkatkan layanan kesehatan bagi pengungsi melalui kerja sama dengan Dinas Kesehatan, puskesmas, rumah sakit, dan mitra terkait. Layanan tersebut mencakup edukasi kesehatan, pemeriksaan dasar, dukungan kesehatan mental, hingga rujukan medis.

“Langkah ini dilakukan secara berkelanjutan agar para pengungsi, khususnya anak-anak, tetap memperoleh layanan dan perlindungan yang layak selama berada di Batam,” ujar Firmansyah.***