• Thu, Jul 2026

Pencarian Penumpang KMP Bahtera Nusantara 03 Resmi Dihentikan Setelah Tujuh Hari

Pencarian Penumpang KMP Bahtera Nusantara 03 Resmi Dihentikan Setelah Tujuh Hari

Tim SAR Gabungan resmi menutup untuk pencarian Christina Lindasari (43), seorang penumpang diduga terjatuh dari KMP Bahtera Nusantara 03. (Foto: RRI)


TANJUNGPINANG : SERANTAU MEDIA – Tim SAR Gabungan resmi menghentikan operasi pencarian Christina Lindasari (43), penumpang KMP Bahtera Nusantara 03 yang diduga terjatuh di perairan Kabupaten Bintan. Keputusan tersebut diambil setelah upaya pencarian selama tujuh hari tidak membuahkan hasil.

Keputusan penghentian operasi disepakati dalam rapat koordinasi yang melibatkan Tim SAR Gabungan, pihak ASDP, dan keluarga korban di Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) Tanjungpinang, Selasa (28/7/2026).

Kepala KPP Tanjungpinang, Fazzli, mengatakan seluruh area pencarian di perairan Lobam hingga Numbing telah disisir sesuai rencana operasi. Namun, hingga hari ketujuh, korban belum berhasil ditemukan.

"Sampai dengan hari ketujuh, korban masih belum ditemukan dan tidak ada tanda-tanda keberadaannya," kata Fazzli.

Meski operasi SAR telah ditutup, Fazzli menegaskan pemantauan tetap dilakukan melalui penyebaran informasi (e-Broadcast) kepada kapal-kapal yang melintas di sekitar lokasi kejadian. Selain itu, peralatan evakuasi juga tetap disiagakan apabila sewaktu-waktu ditemukan petunjuk keberadaan korban.

"Operasi SAR telah disepakati ditutup. Namun, jika di kemudian hari ditemukan tanda-tanda korban, kami siap mengerahkan alat utama untuk melakukan evakuasi," ujarnya.

Insiden tersebut bermula saat KMP Bahtera Nusantara 03 berlayar dari Tanjung Uban menuju Tambelan pada Selasa (21/7/2026) sekitar pukul 23.00 WIB. 

Keesokan paginya, sekitar pukul 05.00 WIB, anak korban menyadari ibunya sudah tidak berada di atas kapal. Hingga kini, lokasi pasti korban diduga terjatuh belum diketahui.

Selama operasi berlangsung, pencarian melibatkan 12 unsur Tim SAR Gabungan, di antaranya KPP Tanjungpinang, VTS Batam, Polairud, Lanal Bintan, PLP Tanjung Uban, Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI), ASDP, serta sejumlah instansi terkait lainnya.(rri/red)