TANJUNGPINANG : SERANTAU MEDIA – Wakil Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Nyanyang Haris Pratamura menilai Salak Sari Intan di Kabupaten Bintan berpotensi menjadi produk unggulan pertanian daerah. Komoditas ini dinilai mampu memperkuat kemandirian pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
“Keberhasilan mengembangkan perkebunan Salak Sari Intan ini bukan sekadar urusan bercocok tanam biasa. Ini jadi bukti bahwa dengan dedikasi, disiplin, dan inovasi, tanah Bintan mampu menghasilkan buah unggulan yang membanggakan,” kata Nyanyang saat meninjau perkebunan tersebut di Jalan Bumi Indah Gesek, Bintan, Kamis.
Nyanyang mengapresiasi Kelompok Tani (Poktan) Maju Jaya yang berhasil mengembangkan salak lokal di tengah tantangan pertanian wilayah kepulauan, seperti perubahan cuaca, curah hujan yang tidak menentu, serta kondisi tanah yang memerlukan teknik budidaya khusus.
Menurutnya, pengembangan perkebunan produktif seperti Salak Sari Intan dapat mengurangi ketergantungan Kepri terhadap pasokan buah dari luar daerah.
Ia juga melihat peluang pengembangan perkebunan tersebut sebagai destinasi agrowisata. Selain meningkatkan nilai tambah hasil pertanian, konsep ini berpotensi membuka sumber pendapatan baru bagi masyarakat.
Pengembangan agrowisata, lanjutnya, dapat menggerakkan berbagai sektor pendukung, mulai dari kuliner dan transportasi hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Nyanyang berharap Salak Sari Intan terus berkembang menjadi contoh keberhasilan pengembangan komoditas hortikultura di Kepri. Ia menekankan pentingnya dukungan dan kolaborasi berbagai pihak agar pertanian lokal semakin berdaya saing dan memberikan manfaat ekonomi berkelanjutan bagi petani.
Sementara itu, Ketua Poktan Maju Jaya, Suwadi, mengatakan Salak Sari Intan merupakan Varietas Unggul Baru (VUB) hasil persilangan sejumlah varietas salak nasional, yakni Salak Pondoh, Salak Pasir, dan Salak Bali. Varietas tersebut telah dirilis secara resmi oleh Kementerian Pertanian.
Menurut Suwadi, penanaman Salak Sari Intan dimulai pada 2003 dan kini jumlah pohonnya telah mencapai ribuan batang.
Salak ini memiliki ciri khas rasa sangat manis, daging buah tebal, tekstur renyah, serta aroma harum. Buahnya juga disebut tidak terasa sepat meski dipanen saat masih muda.
Suwadi menambahkan, Salak Sari Intan telah terdaftar sebagai produk Indikasi Geografis (IG) di Kementerian Hukum, sehingga semakin memperkuat identitasnya sebagai produk unggulan dari wilayah perbatasan.
“Harga salak Rp24 ribu sampai Rp25 ribu per kilogram. Pembelinya tidak hanya warga lokal, tapi juga dari mancanegara, seperti Malaysia, Singapura hingga Thailand,” kata Suwadi. (Ant/red)