• Mon, Jun 2026

Puting Beliung Porak-porandakan Sekolah dan Rumah Warga di Api-Api

Puting Beliung Porak-porandakan Sekolah dan Rumah Warga di Api-Api


BENGKALIS, SERANTAU MEDIA - Minggu pagi biasanya menjadi waktu yang tenang bagi warga Desa Api-Api, Kecamatan Bandar Laksamana, Kabupaten Bengkalis. Anak-anak menikmati hari libur, sebagian warga beraktivitas di rumah, sementara yang lain bersiap menjalani rutinitas akhir pekan.

Namun suasana damai itu berubah dalam hitungan menit pada Minggu (7/6/2026) sekitar pukul 08.30 WIB.

Langit yang semula mendung mendadak menggelap. Hujan deras turun disertai embusan angin yang semakin lama semakin kencang. Tak lama kemudian, pusaran angin puting beliung menerjang kawasan Jalan Lintas Dumai-Pakning dan menyapu bangunan yang berada di jalurnya.

Warga hanya bisa menyaksikan atap-atap beterbangan dan pepohonan bergoyang hebat diterpa amukan alam. Suara gemuruh angin bercampur hujan menciptakan kepanikan di tengah permukiman.

Ketika badai berlalu, pemandangan yang tersisa begitu memilukan.

Bangunan SMP Negeri 1 Bandar Laksamana menjadi lokasi yang mengalami kerusakan paling parah. Puluhan ruang belajar rusak berat, sebagian atap terlepas, sementara sejumlah bangunan pendukung sekolah tampak porak-poranda.

Kepala Desa Api-Api, Zulkifli, mengatakan kerusakan yang terjadi di kompleks sekolah sangat besar.

"Tercatat sedikitnya 20 ruang kelas hancur. Selain itu ruang kantor, laboratorium, hingga rumah dinas kepala sekolah juga mengalami kerusakan parah," ujarnya.

Di beberapa sudut sekolah, puing-puing atap dan material bangunan berserakan. Meja dan kursi belajar yang biasanya digunakan siswa tampak tertimpa reruntuhan. Kondisi tersebut membuat kompleks pendidikan itu menyerupai lokasi yang baru saja diterjang bencana besar.

Tak hanya sekolah menengah pertama, sebuah bangunan taman kanak-kanak dan tiga rumah warga juga mengalami kerusakan berat akibat terjangan angin.

Meski kerusakan yang ditimbulkan sangat besar, warga masih bersyukur karena tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

Hari libur sekolah menjadi penyelamat yang tak disangka. Saat bencana terjadi, tidak ada aktivitas belajar mengajar sehingga seluruh ruang kelas dalam keadaan kosong.

"Alhamdulillah tidak ada korban jiwa maupun korban luka. Kalau kejadian ini terjadi saat hari sekolah, tentu situasinya bisa berbeda," kata seorang warga yang ikut membantu membersihkan puing-puing bangunan.

Namun cobaan bagi warga Desa Api-Api belum berakhir. Sebagian besar wilayah terdampak masih diselimuti kegelapan. Puting beliung ternyata juga merusak jaringan listrik yang menjadi sumber penerangan masyarakat.

Sejumlah tiang listrik roboh dan patah, sementara beberapa trafo distribusi mengalami kerusakan. Kabel-kabel listrik tampak menjuntai di sejumlah titik sehingga petugas harus bekerja ekstra hati-hati saat melakukan perbaikan.

Manajer PT PLN (Persero) ULP Bengkalis, Ade Pratama Saputra, mengatakan kerusakan jaringan kali ini cukup signifikan.

Berdasarkan hasil pendataan sementara, terdapat tiga tiang listrik yang patah total dan empat tiang lainnya mengalami kemiringan yang berpotensi membahayakan. Selain itu, tiga unit trafo utama juga mengalami kerusakan.

"Karena tingkat kerusakannya cukup berat, kami juga meminta bantuan tim dari PLN Dumai untuk mempercepat proses pemulihan," ujarnya.

Sejak pagi hingga menjelang malam, petugas PLN terlihat terus bekerja di tengah sisa-sisa puing bencana. Alat berat dan kendaraan operasional hilir mudik membawa material pengganti agar pasokan listrik dapat segera kembali normal.

Sementara itu, pemerintah desa bersama instansi terkait terus melakukan pendataan kerusakan serta menyalurkan bantuan darurat kepada warga yang rumahnya terdampak.

Bagi masyarakat Desa Api-Api, Minggu pagi itu akan menjadi hari yang sulit dilupakan. Dalam waktu singkat, puting beliung mengubah bangunan sekolah, rumah warga, dan jaringan listrik menjadi puing-puing kerusakan.

Meski demikian, di tengah reruntuhan yang tersisa, semangat gotong royong warga mulai terlihat. Mereka bahu-membahu membersihkan lingkungan, membantu tetangga yang terdampak, dan berharap aktivitas di desa dapat segera pulih seperti sediakala.***